Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pihak Asing Khawatir Swasembada Energi RI Ancam Pasar Biodiesel Global

Utusan Khusus Presiden menegaskan adanya keberatan dari pihak luar negeri terhadap kebijakan biodiesel B50 hingga B100 yang berpotensi kurangi impor energi hingga Rp300 triliun per tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 12.04 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 31x dibuka
Pihak Asing Khawatir Swasembada Energi RI Ancam Pasar Biodiesel Global📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Utusan Khusus Presiden RI bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap adanya ketidaknyamanan dari sejumlah negara asing terhadap langkah Indonesia menuju swasembada energi, khususnya melalui program biodiesel B50 dan B100. Ia menyatakan bahwa kebijakan tersebut, meski bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional, berdampak langsung pada pasar energi yang selama ini dikuasai oleh produsen luar negeri.

Program biodiesel yang diterapkan secara bertahap dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan bahan bakar fosil sebesar Rp200–300 triliun setiap tahun. Dengan pengurangan tersebut, Indonesia tidak hanya memangkas defisit neraca perdagangan, tetapi juga mengurangi risiko ekonomi akibat fluktuasi harga global. Hashim menekankan bahwa perubahan ini mengancam keuntungan komersial dari industri energi global yang selama ini bergantung pada ekspor produk minyak dan turunannya.

Ia menyoroti bahwa gejolak geopolitik—seperti konflik di Ukraina, Teluk Persia, hingga konflik Yaman—secara langsung memengaruhi harga energi dunia dan berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, kemandirian energi menjadi strategi penting untuk menghindari ketergantungan yang rentan terhadap tekanan luar. Dengan mengurangi impor senilai Rp500–600 triliun per tahun, Indonesia juga mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.

Selain aspek ekonomi, program ini juga dianggap sebagai peluang besar menciptakan lapangan kerja berbasis pertanian dan energi hijau. Hashim menekankan bahwa sektor pertanian, yang menjadi fondasi produksi bahan baku biodiesel, belum bisa digantikan oleh otomasi atau teknologi tinggi. Oleh karena itu, kebijakan ini tidak hanya menopang keberlanjutan energi, tetapi juga membuka peluang bagi green jobs yang berkelanjutan dan inklusif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya