Pihak Asing Khawatir Swasembada Energi RI Ancam Pasar Biodiesel Global
Utusan Khusus Presiden menegaskan adanya keberatan dari pihak luar negeri terhadap kebijakan biodiesel B50 hingga B100 yang berpotensi kurangi impor energi hingga Rp300 triliun per tahun.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 12.04 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 31x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Utusan Khusus Presiden RI bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap adanya ketidaknyamanan dari sejumlah negara asing terhadap langkah Indonesia menuju swasembada energi, khususnya melalui program biodiesel B50 dan B100. Ia menyatakan bahwa kebijakan tersebut, meski bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional, berdampak langsung pada pasar energi yang selama ini dikuasai oleh produsen luar negeri.
Program biodiesel yang diterapkan secara bertahap dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan bahan bakar fosil sebesar Rp200–300 triliun setiap tahun. Dengan pengurangan tersebut, Indonesia tidak hanya memangkas defisit neraca perdagangan, tetapi juga mengurangi risiko ekonomi akibat fluktuasi harga global. Hashim menekankan bahwa perubahan ini mengancam keuntungan komersial dari industri energi global yang selama ini bergantung pada ekspor produk minyak dan turunannya.
Ia menyoroti bahwa gejolak geopolitik—seperti konflik di Ukraina, Teluk Persia, hingga konflik Yaman—secara langsung memengaruhi harga energi dunia dan berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, kemandirian energi menjadi strategi penting untuk menghindari ketergantungan yang rentan terhadap tekanan luar. Dengan mengurangi impor senilai Rp500–600 triliun per tahun, Indonesia juga mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.
Selain aspek ekonomi, program ini juga dianggap sebagai peluang besar menciptakan lapangan kerja berbasis pertanian dan energi hijau. Hashim menekankan bahwa sektor pertanian, yang menjadi fondasi produksi bahan baku biodiesel, belum bisa digantikan oleh otomasi atau teknologi tinggi. Oleh karena itu, kebijakan ini tidak hanya menopang keberlanjutan energi, tetapi juga membuka peluang bagi green jobs yang berkelanjutan dan inklusif.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Pemerintah membangun 66 unit hunian tetap di dua lokasi di Lhokseumawe untuk memulihkan tempat tinggal warga terdampak bencana hidrometeorologi pada November 2025.
24 Oktober 2026

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,8 persen, namun sekitar 11.000 desa dan dusun masih belum terjangkau listrik, dengan target pemerintah menyediakan akses listrik untuk semua hingga 2029.
24 Oktober 2026

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Pemerintah siap menghadapi dampak La Nina melalui kesiapan infrastruktur dan kolaborasi nasional untuk menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan.
24 Oktober 2026

DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pertamina Hulu Mahakam meraih penghargaan terbaik dalam kategori Tata Kelola dan Kepatuhan di ajang Penghargaan Energi Subroto 2026.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

