Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Santri Diminta Perkuat Literasi Lewat Budaya Baca

Anggota DPR RI menekankan peran santri dalam memperkuat literasi nasional melalui tradisi membaca yang inklusif dan kontekstual.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 33x dibuka
Santri Diminta Perkuat Literasi Lewat Budaya Baca📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi ajang refleksi penting bagi seluruh kalangan santri untuk memperkuat budaya membaca sebagai fondasi keilmuan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menekankan bahwa tradisi membaca bukan sekadar kewajiban spiritual, tetapi alat strategis dalam mengatasi tantangan literasi yang masih menghambat kemajuan bangsa. Ia menilai bahwa semangat membaca yang telah menjadi ciri khas santri harus diperluas melampaui kitab suci ke berbagai karya ilmiah, sastra, dan fiksi.

Fikri menekankan bahwa membaca bukan hanya tentang menyerap informasi, tetapi juga membangun kemampuan memahami realitas sosial dan perkembangan zaman. Ia menyoroti nilai-nilai keberlanjutan dalam tradisi santri, yang selalu mengedepankan keingintahuan dan kajian mendalam. Dalam konteks sejarah, ia mengingatkan peran penting para santri dalam perjuangan kemerdekaan, terutama setelah proklamasi 17 Agustus 1945, termasuk instruksi KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 untuk bangkit mempertahankan kemerdekaan.

Ia juga menyoroti makna kata "santri" yang memiliki akar linguistik dalam bahasa Sanskerta, yakni *shastri*, merujuk pada seseorang yang ahli membaca kitab suci, serta dalam konteks budaya Jawa sebagai *cantrik*, yang berarti murid yang belajar secara intensif dari seorang guru. Menurutnya, konsep ini relevan hingga kini, di mana santri tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pelopor pemikiran kritis dan solusi atas persoalan modern.

Sebagai bagian dari upaya pembangunan pendidikan nasional, Fikri menyoroti pentingnya kolaborasi antara lembaga legislatif dan institusi pendidikan, termasuk Perpustakaan Nasional, dalam membuka akses terhadap beragam sumber bacaan. Ia berharap momentum Hari Santri dapat mendorong pesantren menjadi pusat transformasi ilmu yang inklusif dan berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga aktor utama dalam membangun peradaban bangsa.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya