Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Xi Jinping Hadiri Jamuan Kenegaraan di AS, Tantangan Ekonomi dan Diplomasi Mengemuka

Pertemuan puncak Xi Jinping dengan Trump di Washington berlangsung dengan upacara mewah, namun sejumlah keinginan Beijing terkait perdagangan, teknologi, dan Taiwan tidak terpenuhi secara penuh.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 21.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Xi Jinping Hadiri Jamuan Kenegaraan di AS, Tantangan Ekonomi dan Diplomasi Mengemuka📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden China Xi Jinping menerima sambutan kenegaraan megah saat tiba di Washington, termasuk penyambutan langsung di Gedung Putih oleh Presiden AS Donald Trump. Jamuan makan malam yang digelar di North Portico menjadi simbol diplomasi tingkat tinggi, namun di balik keramaian tersebut, realitas kompleks antara dua kekuatan global mulai terlihat jelas. Meski terjadi pertukaran ucapan hangat dan perayaan budaya, kesepakatan yang diharapkan Beijing—terutama dalam bentuk perpanjangan gencatan tarif—hanya disepakati untuk periode singkat, dari November hingga Januari, jauh dari harapan Beijing yang menargetkan jangka waktu minimal satu tahun.

Kekhawatiran ekonomi dalam negeri menjadi salah satu latar belakang utama kunjungan Xi. Meskipun ekspor China mencatat rekor baru, pertumbuhan domestik masih terhambat oleh konsumsi yang lesu, tingkat pengangguran muda yang tinggi, dan penurunan harga properti yang signifikan. Dalam konteks ini, akses ke pasar luar negeri—khususnya AS—menjadi krusial untuk menjaga kinerja ekonomi. Karena itu, keberlanjutan kebijakan perdagangan yang stabil menjadi prioritas utama bagi Beijing, namun Washington belum bersedia memberikan komitmen jangka panjang tanpa adanya kompensasi substantif dari China.

Di bidang geopolitik, isu Taiwan tetap menjadi batu sandungan utama. Xi kembali menegaskan bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan merupakan batas merah, menekankan perlunya AS menjaga "posisi yang benar" dalam isu tersebut. Di sisi lain, Trump mempertahankan kewajiban hukum AS untuk mendukung pertahanan Taiwan, meski memilih menunda persetujuan paket senjata senilai US$14 miliar sebagai strategi tawar-menawar. Pernyataan Xi yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas hubungan tidak disertai respons eksplisit dari Trump, yang tetap berada dalam tekanan politik dari kedua partai untuk mempertahankan dukungan terhadap Taiwan.

Dalam diskusi tentang kecerdasan buatan, kedua pemimpin menyampaikan prinsip umum tentang perlunya teknologi berada dalam kendali manusia, namun tidak ada kesepakatan konkret yang diumumkan. Meski muncul kekhawatiran dari kalangan ilmuwan terkait risiko AI menyebabkan kepunahan, Trump menilai peringatan tersebut sebagai "tipuan", sementara Xi tetap menekankan pentingnya pengawasan. Sementara itu, pengiriman dua panda, Ping Ping dan Fu Shuang, ke Atlanta menjadi simbol diplomasi baru yang menarik perhatian publik, membawa nuansa hangat dalam suasana yang sarat ketegangan.

Meski citra Xi diperkuat di dalam negeri melalui penampilan resmi dan media sosial yang ramai dengan perbandingan visual dengan Trump, realitas di lapangan tetap menunjukkan persaingan tajam antara dua negara. Sambutan mewah dan ritual kenegaraan mampu memperhalus hubungan, namun tidak menghapus ketegangan struktural di bidang perdagangan, teknologi, dan keamanan. Dalam konteks ini, pertemuan ini lebih menjadi momen diplomasi simbolik daripada langkah substantif menuju kolaborasi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya