Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Fotografer Jepang Abadikan Keindahan dan Bahaya Puncak Fuji

Seorang fotografer Jepang tinggal selama 17 tahun di kawasan puncak Gunung Fuji untuk memotret keindahan alam dan menyebarkan informasi keselamatan bagi pendaki.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Fotografer Jepang Abadikan Keindahan dan Bahaya Puncak Fuji📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Selama lebih dari satu dekade, Megumi Ueda memilih tinggal di dekat puncak Gunung Fuji, menempatkan dirinya sebagai pengamat dan penyedia informasi bagi para pendaki. Ia menjalankan tugas di sebuah kuil Shinto yang berdiri di ketinggian 3.776 meter di atas permukaan laut, menjadikan tempat itu sebagai basis operasional selama musim pendakian berlangsung. Dengan alat foto dan catatan harian, Ueda merekam momen-momen kritis seperti matahari terbit dan terbenam, serta perubahan ekstrem cuaca yang sering terjadi di kawasan tersebut.

Keputusannya untuk tinggal di puncak bermula dari pengalaman pertama saat mendaki di usia awal tiga puluhan. Setelah merasakan kehadiran alam yang luar biasa di puncak, Ueda memutuskan untuk menetap dan bekerja di kuil gunung. Ia menekankan bahwa pengalaman pertama tinggal di sana tidak mudah—kondisi terpencil, fasilitas terbatas, serta keramaian pendaki yang datang secara beruntun menjadi tantangan awal. Namun, saat turun dan menoleh kembali ke gunung, emosinya meledak. “Saat saya berbalik, semua pemandangan itu kembali menghiasi pikiran, dan saya menangis,” kenangnya.

Setiap pagi, Ueda bangun sekitar pukul 04.00 untuk menangkap cahaya pertama di atas puncak. Ia percaya bahwa visual dari momen tersebut memberi pemahaman lebih dalam dibandingkan angka-angka suhu atau kecepatan angin semata. Ia secara rutin mencatat data cuaca dan membagikannya secara daring, sebagai bentuk kontribusi terhadap keselamatan pendaki. Di kawasan yang tak memiliki kamera pengawas, Ueda ingin menjadi suara nyata dari kondisi lapangan, memastikan informasi yang disampaikan bisa mengurangi risiko kecelakaan.

Dalam satu musim pendakian, lebih dari 200.000 orang memilih mendaki Gunung Fuji, dengan catatan sedikitnya enam nyawa hilang tahun ini. Ueda, yang telah dilatih pertolongan pertama di alam terbuka, pernah terlibat dalam proses penyelamatan. Ia menemui pendaki yang terjatuh atau mengalami hipotermia akibat pakaian yang tidak sesuai kondisi. Upayanya tak hanya soal dokumentasi, tetapi juga menyediakan pengetahuan praktis agar setiap orang yang mendaki bisa memahami ancaman nyata yang ada di ketinggian.

Setelah musim pendakian berakhir, Ueda berencana kembali pada musim panas untuk melanjutkan dokumentasi. Ia tetap berkomitmen pada misi dua arah: mengabadikan keindahan alam dan menyampaikan peringatan nyata tentang bahaya yang mengintai di puncak gunung tertinggi Jepang. Baginya, setiap gambar bukan sekadar karya seni, melainkan pesan tentang kesiapan, penghargaan terhadap alam, dan keselamatan manusia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya