Hacker ShinyHunters Bobol Portal FBI, Bocorkan Data Pegawai Sensitif
Sebuah kelompok peretas mengklaim telah meretas situs resmi FBI dan mencuri data pribadi serta penugasan ribuan pegawai, termasuk informasi sensitif terkait intelijen asing.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 21.04 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 11x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Sebuah serangan siber mengejutkan terjadi terhadap sistem keamanan internal Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI), ketika kelompok peretas bernama ShinyHunters mengaku berhasil mengakses dan mencuri data sensitif milik ribuan pegawai aktif dan mantan. Dalam pernyataan yang dikeluarkan, mereka menyebut telah mengambil sekitar 2 hingga 3 terabyte data, meski hanya sebagian kecil—berupa 5.000 baris spreadsheet—yang dibocorkan secara publik. Data tersebut mencakup nama lengkap, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, nomor jaminan sosial, dan informasi kontak darurat, serta penempatan kerja di berbagai kantor lapangan dan unit khusus.
Beberapa informasi dalam data menunjukkan penugasan khusus terkait bidang intelijen tingkat tinggi, termasuk agen yang ditugaskan untuk memantau aktivitas China, Rusia, Iran, dan kelompok teroris seperti Hezbollah. Diantaranya, terdapat 14 pegawai yang tercatat menangani isu China, termasuk unit analisis transfer teknologi dan intelijen kriminal. Sementara itu, sembilan lainnya terlibat dalam penanganan ancaman dari Rusia, termasuk dalam bidang infrastruktur kritis dan teknologi. Selain itu, ada 18 pegawai yang bergerak di bidang teknologi pengintaian dan penyadapan, termasuk dalam unit operasi teknis rahasia FBI.
FBI telah mengonfirmasi adanya kebocoran data melalui portal rekrutmen FBIjobs.gov, meski masih dalam tahap penyelidikan untuk menentukan penyebab dan cakupan serangan. Pihak biro menegaskan bahwa data yang bocor berisi informasi pribadi dan penugasan yang sensitif, namun belum dapat dipastikan keakuratan seluruh isi yang diunggah oleh kelompok peretas. ShinyHunters mengancam akan menyandera data lebih lanjut jika FBI tidak mencabut pernyataan yang mereka anggap merugikan, terutama terkait klaim sebelumnya pada Mei bahwa kelompok tersebut kerap membesar-besarkan akses mereka untuk menekan korban.
Ahli intelijen eks-FBI, Eric O'Neill, memperingatkan bahwa data tersebut berpotensi menjadi aset berharga bagi negara-negara lawan AS, terutama China dan Rusia, yang sangat tertarik mengetahui siapa saja agen yang bergerak dalam operasi rahasia. Ia menyebutkan bahwa jika identitas agen terbongkar, mereka bisa menjadi target ancaman fisik atau psikologis. Mantan penyelidik Angkatan Darat AS, Trevor Hilligoss, menambahkan kekhawatiran serius terkait informasi kontak darurat, yang biasanya merupakan keluarga dekat pegawai, dan bisa menjadi sarana eksploitasi terhadap keamanan operasional.
Pihak FBI hingga kini belum merilis rincian lengkap mengenai dampak serangan, tetapi menekankan bahwa langkah-langkah pemulihan dan penguatan sistem keamanan sedang dipercepat. Sementara itu, media independen telah memverifikasi sebagian data melalui perbandingan dengan catatan kebocoran sebelumnya, dan hasilnya menunjukkan kesesuaian yang tinggi. Namun, belum ada bukti pasti bahwa semua informasi dalam spreadsheet tersebut benar sepenuhnya, meski potensi risiko bagi keamanan nasional tetap sangat tinggi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kolaborasi Digital Indonesia-Microsoft Dorong Inovasi Berkelanjutan
Menteri Komunikasi dan Digital menekankan pentingnya kerja sama strategis dengan Microsoft untuk percepatan pengembangan AI, cloud, dan ekosistem digital berkelanjutan di Tanah Air.
25 September 2026

Grab Perkuat Keselamatan Pengguna dengan Teknologi AI dan Fitur Terintegrasi
Grab meluncurkan serangkaian fitur keselamatan berbasis kecerdasan buatan dan pengawasan manusia untuk melindungi pengguna dan mitra pengemudi selama perjalanan.
25 September 2026

Indonesia Pimpin Dunia dalam Pemanfaatan AI untuk Pendidikan
Indonesia menduduki peringkat tertinggi global dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk pendidikan, namun perlu kewaspadaan terhadap dampaknya terhadap kemampuan kognitif peserta didik.
25 September 2026

Thailand Perkuat Pertanian dengan Teknologi Cerdas
Thailand memperkuat sektor pertanian melalui penerapan teknologi digital seperti IoT, drone, dan kecerdasan buatan untuk tingkatkan produktivitas dan ekspor komoditas unggulan.
25 September 2026
Berita Lainnya

Minat Investor Indonesia ke Saham AS Melesat
Jumat, 25 September 2026, 23.26 WITA

Komisaris MEDC Lepas 3 Juta Saham, Kepemilikan Menyusut
Jumat, 25 September 2026, 23.26 WITA

Menkomdigi Dorong Telin Jadi Jembatan Digital Indonesia Global
Jumat, 25 September 2026, 23.26 WITA

BRI Money Changer Hadir di Titik Strategis untuk Kemudahan Tukar Valas
Jumat, 25 September 2026, 23.25 WITA

OJK Cabut Izin BPRS Musyarakah Ummat Indonesia
Jumat, 25 September 2026, 23.25 WITA

Danantara Dilibatkan Perkuat Pengelolaan Dana Pensiun BUMN
Jumat, 25 September 2026, 23.25 WITA

Mendag Perkuat Komunikasi dengan Ritel Atasi Kelangkaan Beras Premium
Jumat, 25 September 2026, 23.25 WITA

CIMB Niaga Dapat Dua Penghargaan Global untuk Pembiayaan Berkelanjutan
Jumat, 25 September 2026, 23.24 WITA

