Memburu Pemangsa Usung Kekerasan Anak Lewat Cerita Horor
Film Memburu Pemangsa mengangkat isu kekerasan seksual terhadap anak melalui narasi horor psikologis yang menggugah kesadaran kolektif.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Film Memburu Pemangsa menghadirkan pendekatan baru dalam genre horor dengan menggabungkan elemen investigasi jurnalistik, ketegangan psikologis, dan aksi fisik dalam satu alur cerita yang intens. Sutradara Umay Shahab bersama Sinemaku Pictures memilih mengeksplorasi kegelapan yang nyata—bukan hanya mitos atau makhluk gaib—melainkan praktik kejahatan manusia yang bersembunyi di balik ritual dan kekejaman terhadap anak-anak. Cerita berawal dari hilangnya sejumlah anak secara beruntun, yang kemudian diusut oleh empat jurnalis perempuan dengan latar belakang emosional dan profesional yang kompleks.
Setiap tokoh memiliki latar belakang unik yang memengaruhi cara mereka menyelami kasus ini. Agnes, yang kehilangan anaknya, mengandalkan intuisi tajam dan kepekaan emosional dalam setiap langkah investigasi. Cia, sebagai bibi dari seorang anak yang masih dalam pengasuhan, berperan sebagai pelindung sekaligus pencari keadilan, di tengah ketakutan akan ancaman yang mengintai di lingkungan sekitar. Brina tampil sebagai sosok pemberani yang tak segan terlibat dalam riset lapangan, didampingi sang kakak, petugas polisi yang memilih bekerja secara diam-diam demi melindunginya. Anya, dengan kecintaannya pada literatur okultisme, menjadi kunci dalam memahami simbol-simbol kejahatan yang tersembunyi di balik ritual pemujaan sesat.
Dinamika antar karakter tidak hanya menonjolkan kekuatan kolaborasi, tetapi juga menyoroti realitas pekerjaan jurnalistik yang penuh tantangan, mulai dari verifikasi sumber hingga menanggung risiko hukum akibat kesalahan informasi. Film menampilkan secara akurat proses redaksi—mulai dari pengumpulan data, pemeriksaan rekam jejak narasumber, hingga penyeimbangan narasi. Salah satu momen kritis terjadi ketika Cia melakukan kesalahan verifikasi, yang berujung pada tuntutan hukum, menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi.
Melalui pendekatan yang mendalam, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik penonton tentang kompleksitas dan tanggung jawab profesi jurnalis. Dengan menempatkan perempuan sebagai tokoh utama yang kuat, cerita ini menolak stigma bahwa perempuan hanya korban atau pelengkap. Di balik ketegangan yang dibangun, pesan utama tetap jelas: kekerasan terhadap anak bukan isu yang boleh diabaikan, melainkan tuntutan bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi mendatang.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pameran Sejarah Tibet 1987–1989 Tampilkan Kekerasan dan Perlawanan Rakyat
Pameran di Dharamshala menggambarkan peristiwa kelam di Lhasa 1987–1989 melalui dokumentasi visual, kesaksian saksi mata, dan bukti kekerasan militer yang menimpa rakyat Tibet.
25 September 2026

Gugatan Ijazah Gibran Di MK: Soal Konstitusi, Bukan Hanya Persyaratan Pendidikan
Gugatan di MK soal ijazah Gibran menyoroti dugaan pasal selundupan dalam PKPU Pilpres 2024, bukan sekadar keabsahan dokumen pendidikan.
25 September 2026

11 Kapolda Lulusan Akpol 1994 Sama Angkatan dengan Wakapolda Metro Jaya
Sebanyak 11 Kapolda di Indonesia merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1994, satu angkatan dengan Wakapolda Metro Jaya Irjen Pol Dekananto Eko Purwono.
25 September 2026

BaraJP Minta MK Tolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
BaraJP menegaskan pentingnya menjaga kepastian hukum dan finalitas hasil pemilu dengan meminta MK menolak gugatan terkait ijazah Wapres Gibran.
25 September 2026
Berita Lainnya

Macklemore Gelar Tur Mandiri Dukung Palestina Pasca Didepak dari Tur Ed Sheeran
Jumat, 25 September 2026, 09.29 WITA

Pakistan Tugaskan Jenderal Pensiunan Jadi Sekjen Pertama Pakta Mekkah
Jumat, 25 September 2026, 09.12 WITA

Presiden Suriah Goda Trump dengan New Jersey dalam Pembicaraan Golan
Jumat, 25 September 2026, 09.12 WITA

Jepang Kuatkan Rantai Pasok Pertanian dengan Teknologi dan Koperasi
Jumat, 25 September 2026, 09.09 WITA

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis dan ABK Hilang
Jumat, 25 September 2026, 09.05 WITA

Sidang Cerai Sara dan Demian Berpotensi Diputus Verstek
Jumat, 25 September 2026, 09.05 WITA

AS Perpanjang Ketergantungan pada China untuk Mineral Langka
Jumat, 25 September 2026, 09.05 WITA

Paus Sperma Betina Terdampar di Ternate Ditangani Tim KKP
Jumat, 25 September 2026, 09.04 WITA

