Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Protes Massal Guncang Eropa dalam Sepekan

Ribuan warga di sejumlah kota Eropa turun ke jalan memprotes isu sosial, ekonomi, dan politik, menyebabkan bentrokan dengan aparat di berbagai wilayah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 15.29 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Aksi Protes Massal Guncang Eropa dalam Sepekan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam sepekan terakhir, berbagai kota di Eropa dilanda gelombang aksi protes yang melibatkan ratusan ribu orang. Aksi tersebut menyebar dari Prancis hingga Portugis, menunjukkan ketidakpuasan luas terhadap kebijakan pemerintah terkait pensiun, perumahan, pendidikan, hingga korupsi. Di Prancis, demonstrasi yang awalnya berjalan damai di Paris dan Marseille berubah menjadi bentrokan sengit saat malam tiba, dengan massa membakar tempat sampah dan melemparkan batu ke pasukan keamanan.

Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan 410.000 peserta aksi secara nasional, meski serikat pekerja menyebut jumlahnya lebih dari dua kali lipat. Kota-kota lain seperti Lyon, Bordeaux, dan Toulouse juga menjadi lokasi bentrokan serupa. Di Italia, demonstrasi besar terjadi di Milan, Roma, dan Turin, di mana ribuan orang turun ke jalan menggunakan botol, batu, dan petasan. Kepolisian melaporkan 371 orang ditahan, termasuk 110 di antaranya anak di bawah umur.

Di Albania, aksi protes di Tirana menyoroti ketegangan politik yang memuncak. Puluhan demonstran dan petugas keamanan terluka dalam bentrokan yang melibatkan serangan terhadap gedung pemerintah. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, sementara pihak berwenang mencatat lebih dari 300 korban luka. Sementara itu, di Spanyol, demonstrasi di Barcelona berakhir dengan penjarahan dan pembakaran di alun-alun kota, menyebabkan 100 orang ditangkap. Di Madrid, tuntutan utama adalah kenaikan pensiun berdasarkan inflasi aktual dan perlindungan terhadap sistem pensiun publik.

Di Portugis, aksi protes di Lisbon berlanjut dengan pendirian lebih dari 100 tenda oleh para demonstran. Namun, pada dini hari Minggu, polisi membubarkan tenda dan menangkap sejumlah peserta. Krisis keterjangkauan perumahan menjadi pemicu utama, dengan harga rumah naik lebih dari dua kali lipat sejak 2017 dan sewa kontrak baru hampir dua kali lipat. Kaum muda menjadi kelompok paling terdampak. Di Belgia, bentrokan terjadi di Brussels, di mana polisi menggunakan gas air mata dan merica untuk menangani kerusuhan yang dipicu tuntutan pendanaan pendidikan dan tuduhan kekerasan berlebihan oleh aparat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya