Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Demonstrasi Massal Prancis Tertahan, Ratusan Ribu Jatuhkan Kritik pada Kebijakan Pemerintah

Ratusan ribu warga Prancis turun ke jalan memprotes kenaikan biaya hidup dan kondisi pendidikan, menyebabkan bentrokan dengan polisi dan menimbulkan ratusan penangkapan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 15.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Demonstrasi Massal Prancis Tertahan, Ratusan Ribu Jatuhkan Kritik pada Kebijakan Pemerintah📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ribuan demonstran dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pelajar, mahasiswa, pekerja, dan profesional, memenuhi jalanan kota-kota besar Prancis dalam aksi protes yang berlangsung secara luas pada Sabtu malam. Aksi yang dimulai dengan kegiatan damai di sejumlah kota seperti Paris, Marseille, dan Bordeaux berubah menjadi keributan saat polisi menghadapi kelompok yang melakukan perusakan. Di beberapa lokasi, barikade dibangun dari material bekas dan dibakar, sementara kendaraan dinas diterobos oleh massa.

Kementerian Dalam Negeri melaporkan jumlah peserta mencapai sekitar 410 ribu orang, meski serikat pekerja menyebut angka lebih tinggi, mencapai 800 ribu. Untuk mengantisipasi kekacauan, sekitar 70 ribu personel kepolisian dikerahkan secara luas di wilayah terdampak. Penggunaan gas air mata dan meriam air menjadi respons terhadap tindakan provokatif, termasuk pelemparan benda dan perusakan fasilitas publik. Dalam insiden di Paris, bentrokan terjadi setelah pawai damai yang berjalan dari Porte d'Italie menuju Porte de Vincennes, di mana satuan elit polisi turun tangan untuk mengendalikan situasi.

Ketegangan muncul dari kekecewaan mendalam terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak responsif terhadap tekanan ekonomi dan kualitas layanan publik. Seorang pengunjuk rasa asal Paris, Zelie, mengungkapkan rasa frustrasi yang sudah berkepanjangan: "Kami sudah menderita cukup lama. Mereka terus membungkam kami, mengambil uang kami, dan tidak peduli pada keluhan kami." Ia menekankan bahwa aksi ini bukan sekadar protes, melainkan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Di Marseille, Bordeaux, dan Lyon, terjadi peristiwa serupa dengan pembakaran tempat sampah dan penghancuran fasilitas umum. Di Lyon, polisi menggunakan granat gas air mata setelah kerumunan berkumpul di zona larangan. Sejumlah remaja yang memakai topeng mengungkapkan bahwa aksi kekerasan yang terjadi sebelumnya bukan karena keinginan untuk merusak, melainkan akibat ketidakadilan struktural dan kekerasan represif dari aparat. "Penjarahan terjadi karena kemiskinan dan kekerasan polisi. Kami tidak ingin itu terjadi, tapi ini adalah akibat dari ketidakpedulian pemerintah," ujar salah satu dari mereka.

Pemerintah tetap menegaskan bahwa hanya aksi serikat pekerja yang sah secara hukum, sementara tindakan lainnya dianggap ilegal. Sejak akhir pekan sebelumnya, ratusan orang telah dihukum melalui sidang cepat terkait tindak pidana kekerasan dan vandalisme. Namun, tuntutan dari generasi muda tetap sama: mereka ingin perubahan nyata, bukan sekadar respons simbolis. “Kami benar-benar ingin perubahan di Prancis,” tegas seorang remaja yang memilih tetap anonim, menekankan bahwa protes ini baru akan berakhir jika pemerintah memberikan jawaban konkret atas tuntutan rakyat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya