Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Bandang Nepal Tak Terduga, Ratusan Tewas dan Ribu Hilang

Banjir bandang yang menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet disebabkan runtuhnya massa es dan tanah dari lereng gunung, tanpa peringatan dini, menewaskan 586 orang dan menyebabkan 2.478 orang hilang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Banjir Bandang Nepal Tak Terduga, Ratusan Tewas dan Ribu Hilang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peristiwa banjir bandang di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8) terjadi secara mendadak tanpa adanya peringatan dari otoritas setempat. Berdasarkan analisis awal oleh pejabat Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal, terdapat bukti visual dari massa es besar yang runtuh dari lereng gunung di sisi Tibet, kemudian meluncur deras menuruni lereng bersama batu dan sedimen. Material tersebut menghantam wilayah hilir dengan kekuatan tinggi, menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa yang signifikan.

Salah satu teori yang dikemukakan menyebutkan bahwa longsoran tersebut sempat menyumbat aliran Sungai Lhende, membentuk bendungan alami yang kemudian jebol akibat penumpukan air. Namun, teori ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, mengingat tidak ditemukan indikasi penurunan debit air sebelum kejadian. Basanta Raj Adhikari, pakar bencana dari Universitas Tribhuvan, menegaskan bahwa tidak ada data kenaikan atau penurunan ketinggian air yang tercatat sebelum banjir, sehingga memperkuat dugaan bahwa peristiwa terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda peringatan.

Ahli geologi menyatakan bahwa peristiwa semacam ini sulit diprediksi karena melibatkan kombinasi longsoran es gletser dan tanah dari ketinggian tinggi. Sistem pemantauan yang ada saat ini, seperti pengukuran ketinggian air dan pengamatan lapangan, tidak dirancang untuk mendeteksi keruntuhan mendadak di daerah pegunungan. Sejumlah pakar menyarankan pemanfaatan teknologi canggih seperti pemantauan seismik, citra penginderaan jauh 3D, dan pengukuran laser untuk mendeteksi deformasi tanah, meski keterbatasan akses ke wilayah Himalaya yang terpencil menjadi hambatan besar.

Hingga Sabtu (29/8), jumlah korban tewas mencapai 586 orang, dengan 2.478 orang masih hilang. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Nepal menyebutkan 579 korban tewas, sementara China melaporkan 7 orang tewas di wilayah Tibet. Jumlah orang hilang meningkat drastis dari 1.400 menjadi lebih dari 2.400, menunjukkan dampak besar peristiwa tersebut. Pemerintah Nepal telah mengeluarkan peringatan dini terhadap masyarakat untuk segera berpindah ke kawasan yang lebih tinggi menyusul laporan jebolnya bendungan di Tibet.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya