Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Bensin AS Tembus Rp72,7 Juta per Galon Akibat Ketegangan AS-Iran

Lonjakan harga bensin di AS mencapai Rp72,7 juta per galon menjelang Labor Day, dipicu serangan militer terhadap Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Harga Bensin AS Tembus Rp72,7 Juta per Galon Akibat Ketegangan AS-Iran
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Harga bensin di Amerika Serikat melonjak tajam hingga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah pada akhir pekan peringatan Hari Buruh, dengan rata-rata nasional mencapai US$4,13 per galon atau sekitar Rp72,7 juta. Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS memerintahkan serangan terhadap fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg, menyusul insiden rudal balistik yang menargetkan kapal perang AS. Aksi militer tersebut memperburuk ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah di pasar global.

Peningkatan harga bensin terjadi hanya beberapa hari sebelum libur panjang Labor Day, yang biasanya menjadi masa puncak perjalanan keluarga. Menurut analis GasBuddy Patrick De Haan, angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah pencatatan untuk periode tersebut, melampaui rekor sebelumnya sebesar US$3,83 per galon. Lonjakan harga ini tidak hanya mengguncang konsumen, tetapi juga menggambarkan dampak langsung dari kebijakan militer terhadap ekonomi rumah tangga.

Kondisi ini menimbulkan kritik terhadap kebijakan presiden yang sebelumnya berjanji menurunkan biaya energi, namun kini justru mengarah pada kenaikan harga yang signifikan. Pernyataan presiden yang menyebut warga harus siap membayar lebih untuk memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir justru memperuncing krisis ekonomi bagi masyarakat. Beberapa pengendara, seperti Randi O'Brien dari Colorado, mengungkapkan kesulitan finansial, dengan hanya mampu membeli bensin senilai US$15 (Rp264 ribu) untuk truk mereka.

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan ekspor produk olahan minyak AS meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara stok bensin nasional turun ke 205,7 juta barel—di bawah rata-rata lima tahunan sebesar 217,6 juta barel. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan antara produksi domestik dan distribusi. Para analis memperingatkan harga solar bisa melampaui rekor US$5,82 (Rp102,4 juta) per galon, sementara biaya perjalanan udara diperkirakan naik 20% dibandingkan tahun lalu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya