Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

PTBA Jaga Aliran Batu Bara Lewat Rel, Tak Terganggu Kemarau

PTBA tetap lancarkan distribusi batu bara meski musim kemarau panjang melanda, berkat ketergantungan pada jalur kereta api yang tak terpengaruh kekeringan sungai.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 22.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
PTBA Jaga Aliran Batu Bara Lewat Rel, Tak Terganggu Kemarau📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kegiatan pengangkutan batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tetap berjalan normal meskipun sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kemarau panjang yang memicu penurunan debit air sungai. Perusahaan memastikan operasional logistiknya tidak terganggu karena mengandalkan moda kereta api sebagai jalur utama distribusi dari tambang menuju pelabuhan. Hal ini menjadi keunggulan strategis dibandingkan perusahaan lain yang bergantung pada transportasi sungai, terutama di wilayah Kalimantan.

Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menegaskan bahwa sistem transportasi kereta api menjadi penopang utama kelancaran distribusi. Ia menyebutkan bahwa wilayah utama pengiriman batu bara PTBA berada di Lampung, khususnya Pelabuhan Tarahan, serta Pelabuhan Kertapati di Palembang. Ketergantungan pada jalur darat ini memungkinkan perusahaan menghindari risiko hambatan akibat surutnya sungai, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat.

Kondisi tersebut berbeda jauh dari wilayah lain, terutama Kalimantan, di mana Sungai Kapuas mengalami kekeringan akibat empat bulan tanpa hujan. Kapal tongkang yang seharusnya mengangkut batu bara terjebak dan tidak dapat beroperasi, menyebabkan penumpukan logistik. Walaupun ada isu tentang pembatasan produksi, pihak Kementerian ESDM menegaskan bahwa penyebab utama adalah faktor teknis—kemarau yang menyebabkan kedalaman air sungai berkurang drastis.

PTBA berhasil mencatatkan peningkatan signifikan dalam kinerja keuangan pada Semester I-2026. Laba bersih naik 218% dibanding tahun sebelumnya, mencapai Rp 2,65 triliun, didorong oleh kenaikan volume ekspor sebesar 5% menjadi 10,33 juta ton dan pertumbuhan pendapatan sebesar 8% menjadi Rp 22,03 triliun. Penjualan domestik mencapai 51% dari total 21,1 juta ton, dengan pasar utama di Vietnam, Bangladesh, India, Thailand, dan Kamboja.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya