Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pezeshkian Tegaskan Ketahanan Iran Hadapi Tekanan AS-Israel

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tekad negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan AS dan Israel dalam pidato di New Delhi, sementara India soroti risiko keamanan maritim dan ketergantungan energi akibat krisis di Selat Hormuz.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 19.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Pezeshkian Tegaskan Ketahanan Iran Hadapi Tekanan AS-Israel📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan secara tegas bahwa Teheran tidak akan mengalah menghadapi agresi dari Amerika Serikat dan Israel, dalam pidato yang disampaikannya di hadapan para pemimpin agama India di New Delhi. Pernyataan itu disampaikan pada hari Jumat, menjelang gelaran Konferensi Tingkat Tinggi BRICS, sebagai bagian dari kunjungan resmi pertamanya ke India. Pezeshkian menekankan bahwa perjuangan Iran didasarkan pada prinsip kebenaran dan keadilan, sehingga tidak akan tergoyahkan oleh kekuatan yang menindas.

Pernyataan tegas Pezeshkian muncul dalam konteks ketegangan global yang memburuk, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa Iran berpotensi menyerang Israel, wilayah Timur Tengah, bahkan kota-kota di Amerika Serikat jika Washington tidak bertindak militan. Trump menegaskan kembali keinginannya untuk mengulangi tindakan militer serupa seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Di tengah ketegangan itu, Iran menegaskan kembali komitmen untuk mempertahankan kedaulatannya tanpa menyerah pada tekanan eksternal.

Krisis di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan global, telah memicu dampak serius terhadap ekonomi dunia. Sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, aktivitas pengiriman minyak dan kargo melalui selat tersebut mengalami penurunan drastis. Banyak kapal terjebak di laut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, mengganggu rantai pasok global. Lonjakan harga minyak mentah global kini menjadi ancaman nyata bagi negara-negara importir energi, termasuk India yang mengimpor hampir 85 persen kebutuhan bahan bakarnya.

Pertemuan bilateral antara Pezeshkian dan Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti kekhawatiran mendalam terhadap keamanan pelaut dan stabilitas maritim. Modi menekankan pentingnya perdamaian, kebebasan navigasi, serta penyelesaian konflik melalui diplomasi. Dalam insiden bulan Juli, dua kapal yang membawa 30 pelaut India diserang di Selat Hormuz, menewaskan 10 warga negara India. Insiden ini menegaskan betapa rentannya kepentingan nasional India terhadap eskalasi regional.

Meski berada dalam lingkungan geopolitik yang tegang, kedua pemimpin tampak menunjukkan kerja sama yang hangat. Mereka terlihat bergandengan tangan saat meninggalkan Forum Bisnis BRICS, simbol yang diinterpretasikan sebagai tanda solidaritas dan kerja sama strategis. Kedutaan Besar Iran di India merespons dengan unggahan resmi di platform X, menekankan persahabatan historis antara dua peradaban besar. Momentum ini menunjukkan bahwa meski berbeda kebijakan, kedua negara tetap mempertahankan komunikasi diplomasi yang intens.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya