Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan

Skandal pencurian uang tunai Rp10,18 miliar dari sofa penginapan milik Presiden Afrika Selatan memicu gelombang kritik dan upaya pemakzulan yang kini kembali bergulir di pengadilan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 2020, sebuah kejadian mencurigakan terjadi di penginapan satwa liar milik Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, saat sejumlah uang tunai senilai US$580.000—setara Rp10,18 miliar—yang disembunyikan secara rahasia di dalam sofa raib tanpa jejak. Kejadian itu baru menjadi perbincangan publik pada Juni 2022, setelah mantan kepala intelijen negara, Arthur Fraser, melaporkan kasus tersebut ke kepolisian dengan menuding adanya pelanggaran serius terkait pengelolaan keuangan dan tindakan rahasia di luar struktur resmi pemerintah.

Penyelidikan awal oleh parlemen menemukan bukti yang cukup untuk mempertanyakan tanggung jawab presiden, namun proses pemakzulan sempat terhenti karena dominasi partai ANC di Majelis Nasional. Namun, oposisi tidak menyerah dan menggugat keputusan tersebut ke Mahkamah Konstitusi. Pada Mei 2026, pengadilan tinggi mengabulkan gugatan, memerintahkan parlemen untuk kembali membuka proses penyelidikan terhadap Ramaphosa atas dugaan pelanggaran konstitusional.

Ramaphosa membantah tudingan dengan menyatakan bahwa uang tersebut berasal dari hasil penjualan kerbau kepada seorang pengusaha asal Sudan. Namun, pernyataan ini disambut dengan skeptisisme luas dan bahkan dianggap tidak meyakinkan oleh banyak pihak, termasuk kalangan akademisi dan aktivis hukum. Kritik pun muncul terhadap upaya pengembalian uang yang dilakukan secara tersembunyi, yang dituding sebagai operasi rahasia tanpa transparansi.

Kini, keberlangsungan proses pemakzulan menjadi penentu masa depan politik Ramaphosa. Seorang pejabat dari lembaga pemantau hukum Judges Matter di Universitas Cape Town menyatakan bahwa kemenangan awal oposisi telah melemahkan posisinya secara signifikan, termasuk mengancam stabilitas internal ANC dan prospek kandidat penggantinya. Kasus ini kini menjadi ujian utama bagi integritas kepemimpinan dan sistem demokrasi di Afrika Selatan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya