Jakarta Diminta Evaluasi Kebutuhan Utang Sebelum Terbitkan Obligasi
Ekonom menekankan kewajiban persetujuan multi-instansi dan risiko gagal bayar sebelum DKI Jakarta menerbitkan obligasi daerah.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diimbau untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan pembiayaan sebelum mempertimbangkan penerbitan obligasi daerah. Menurut analis keuangan publik, proses ini tidak bisa dilakukan secara sepihak oleh kepala daerah, melainkan harus melalui mekanisme koordinasi yang ketat dengan berbagai lembaga pemerintah.
Penerbitan obligasi daerah harus mendapatkan persetujuan dari DPRD, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah. Keberadaan aturan ini menekankan bahwa kebijakan pembiayaan daerah tidak bersifat otonom penuh, melainkan membutuhkan validasi dan pengawasan lintas institusi.
Kecaman terhadap penerbitan utang daerah juga disampaikan karena adanya risiko default yang tinggi, terutama jika pendapatan daerah tidak mampu menutupi kewajiban bunga dan pokok utang. Contoh nyata dari Brasil menunjukkan bahwa gagal bayar obligasi daerah dapat merusak stabilitas ekonomi nasional, terutama ketika terjadi ekspektasi bailout dari pemerintah pusat yang menimbulkan moral hazard.
Dengan APBD tahun sebelumnya mencapai kurang dari Rp 91 triliun, pemerintah daerah dianggap memiliki cukup sumber daya internal untuk membiayai kebutuhan pembangunan. Oleh karena itu, lebih disarankan untuk memaksimalkan efisiensi anggaran daripada menambah beban utang yang dapat membebani APBN melalui kewajiban pembayaran bunga tinggi—yang pada beberapa tahun terakhir mencapai hingga 7% per tahun.
Pendekatan yang lebih bijak adalah fokus pada pengelolaan anggaran yang lebih transparan dan akuntabel, bukan mengikuti pola penerbitan utang yang berpotensi menimbulkan dampak sistemik. Pemerintah daerah, termasuk DKI Jakarta, perlu mempertimbangkan kesehatan keuangan jangka panjang daripada solusi cepat yang berisiko tinggi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Donasi Rp858 Miliar dari Investor Kripto untuk Partai Populis Inggris
Investor kripto Ben Delo menyerahkan donasi sebesar Rp858,6 miliar kepada Reform UK menjelang pemilu 2029, memecahkan rekor sumbangan politik di Inggris.
12 September 2026
Pria 36 Tahun Raih Rp151 Triliun dari Jualan Robot Otomatis
Seorang pria berusia 36 tahun sukses mengumpulkan kekayaan mencapai Rp151 triliun hanya dari penjualan robot otomatis dalam waktu singkat.
12 September 2026

Belanda Pindahkan Cadangan Emas 94 Ton untuk Kesiapsiagaan Krisis
Bank sentral Belanda memindahkan 94 ton emas dari Amerika Utara ke Inggris demi memperkuat respons cepat dalam kondisi darurat global.
12 September 2026

PTPP Tanda Tangani MRA, Langkah Nyata Perkuat Fondasi Keuangan
Penandatanganan Master Restructuring Agreement menjadi tonggak penting dalam transformasi PTPP untuk memperbaiki kesehatan keuangan dan operasional.
12 September 2026
Berita Lainnya

Batasi Daya Baterai di Bawah 50% Saat Angkut Mobil Listrik via Kapal
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Indonesia Perkuat Nelayan Skala Kecil Melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

Harga BBM Non Subsidi Naik Per 1 September 2026
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Polisi Thailand Bekuk Sindikat Obat Diet Ilegal Senilai Rp26,7 M
Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi
Sabtu, 12 September 2026, 22.35 WITA

Sinergi Bulog-TNI Percepat Penyaluran Bantuan Pangan Nasional
Sabtu, 12 September 2026, 22.31 WITA


