Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>

Mantan diplomat AS Zalmay Khalilzad mengungkap keputusan gegabah pasca 9/11 yang mengubah geopolitik global, termasuk invasi Afghanistan dan Irak yang didasarkan pada intelijen salah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Zalmay Khalilzad, mantan pejabat tinggi di pemerintahan AS, mengungkapkan bahwa respons Amerika Serikat terhadap serangan 11 September 2001 dipengaruhi oleh emosi publik yang meluap, menyebabkan langkah-langkah strategis yang tidak matang. Ia menekankan bahwa ketakutan dan kemarahan yang melanda masyarakat Amerika mendorong pemerintah untuk bertindak cepat tanpa evaluasi mendalam, yang berujung pada konsekuensi jangka panjang bagi stabilitas global.

Dalam pernyataannya, Khalilzad menyayangkan keputusan menolak negosiasi dengan Taliban pada awal 2001, meskipun kelompok tersebut pernah menunjukkan keinginan untuk berdialog. Ia menilai kegagalan komunikasi dan ketidakmampuan AS untuk mempertimbangkan pendekatan politik sebagai bagian dari strategi keamanan adalah kesalahan besar yang menghambat proses rekonsiliasi di Afghanistan. Kemarahan pasca tragedi, menurutnya, mengaburkan kebijakan yang seharusnya realistis dan berkelanjutan.

Kesalahan lain yang disoroti adalah invasi Irak pada 2003, yang didasarkan pada klaim bahwa negara itu memiliki senjata pemusnah massal. Pernyataan itu, menurut Khalilzad, berakar dari intelijen yang keliru dan tidak dapat diverifikasi. Ia menekankan bahwa tanpa konteks 9/11, AS tidak akan memilih jalan militer terhadap Irak, karena keputusan itu muncul dari paranoia terhadap ancaman baru dan kepercayaan berlebihan pada informasi yang tidak akurat.

Meski menilai penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021 sebagai langkah yang tepat, karena ancaman terorisme telah berkurang, Khalilzad menyatakan bahwa hasil akhir—kebangkitan Taliban—justru menunjukkan dampak tak terduga yang menguntungkan bagi kepentingan AS. Ia menyebut bahwa Taliban kini terbukti lebih kooperatif dalam menekan aktivitas kelompok teroris, yang justru menjadi tujuan utama AS selama dua dekade.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya