<Kesalahan Strategis AS Pasca 9/11 Dibongkar Eks Diplomat>
Mantan diplomat AS Zalmay Khalilzad mengungkap keputusan gegabah pasca 9/11 yang mengubah geopolitik global, termasuk invasi Afghanistan dan Irak yang didasarkan pada intelijen salah.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 22.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Zalmay Khalilzad, mantan pejabat tinggi di pemerintahan AS, mengungkapkan bahwa respons Amerika Serikat terhadap serangan 11 September 2001 dipengaruhi oleh emosi publik yang meluap, menyebabkan langkah-langkah strategis yang tidak matang. Ia menekankan bahwa ketakutan dan kemarahan yang melanda masyarakat Amerika mendorong pemerintah untuk bertindak cepat tanpa evaluasi mendalam, yang berujung pada konsekuensi jangka panjang bagi stabilitas global.
Dalam pernyataannya, Khalilzad menyayangkan keputusan menolak negosiasi dengan Taliban pada awal 2001, meskipun kelompok tersebut pernah menunjukkan keinginan untuk berdialog. Ia menilai kegagalan komunikasi dan ketidakmampuan AS untuk mempertimbangkan pendekatan politik sebagai bagian dari strategi keamanan adalah kesalahan besar yang menghambat proses rekonsiliasi di Afghanistan. Kemarahan pasca tragedi, menurutnya, mengaburkan kebijakan yang seharusnya realistis dan berkelanjutan.
Kesalahan lain yang disoroti adalah invasi Irak pada 2003, yang didasarkan pada klaim bahwa negara itu memiliki senjata pemusnah massal. Pernyataan itu, menurut Khalilzad, berakar dari intelijen yang keliru dan tidak dapat diverifikasi. Ia menekankan bahwa tanpa konteks 9/11, AS tidak akan memilih jalan militer terhadap Irak, karena keputusan itu muncul dari paranoia terhadap ancaman baru dan kepercayaan berlebihan pada informasi yang tidak akurat.
Meski menilai penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021 sebagai langkah yang tepat, karena ancaman terorisme telah berkurang, Khalilzad menyatakan bahwa hasil akhir—kebangkitan Taliban—justru menunjukkan dampak tak terduga yang menguntungkan bagi kepentingan AS. Ia menyebut bahwa Taliban kini terbukti lebih kooperatif dalam menekan aktivitas kelompok teroris, yang justru menjadi tujuan utama AS selama dua dekade.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Polisi Thailand Bekuk Sindikat Obat Diet Ilegal Senilai Rp26,7 M
Operasi penyelundupan obat penurun berat badan ilegal di Nonthaburi menyita barang bukti senilai Rp27,7 miliar dan mengungkap jaringan daring yang beroperasi selama satu tahun.
12 September 2026

Dodhy Umumkan Bubar, Kangen Band Berakhir karena Kekerasan Internal
Gitaris dan pendiri Kangen Band, Dodhy Hardiyanto, mengumumkan pembubaran band secara resmi akibat adanya kezaliman yang dideritanya selama ini.
12 September 2026
Umay Shahab dan Laura Basuki Bicara Misi Film Memburu Pemangsa
Film horor-crime-action Memburu Pemangsa yang dibintangi Umay Shahab dan Laura Basuki mengangkat isu penculikan anak dengan narasi kejahatan tersembunyi di balik kenyataan.
12 September 2026

Pembunuhan Presiden Mesir Akibat Perjanjian Damai dengan Israel
Pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981 terjadi saat ia meresmikan kesepakatan damai dengan Israel dalam parade militer di Kairo, disusupi oleh kelompok radikal yang menolak kebijakan tersebut.
12 September 2026
Berita Lainnya

Batasi Daya Baterai di Bawah 50% Saat Angkut Mobil Listrik via Kapal
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Jakarta Diminta Evaluasi Kebutuhan Utang Sebelum Terbitkan Obligasi
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Uang Rp10 Miliar dari Sofa Penginapan Terancam Gulingkan Presiden Afrika Selatan
Sabtu, 12 September 2026, 22.41 WITA

Indonesia Perkuat Nelayan Skala Kecil Melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

Harga BBM Non Subsidi Naik Per 1 September 2026
Sabtu, 12 September 2026, 22.38 WITA

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi
Sabtu, 12 September 2026, 22.35 WITA

Donasi Rp858 Miliar dari Investor Kripto untuk Partai Populis Inggris
Sabtu, 12 September 2026, 22.35 WITA

Sinergi Bulog-TNI Percepat Penyaluran Bantuan Pangan Nasional
Sabtu, 12 September 2026, 22.31 WITA


