Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pembunuhan Presiden Mesir Akibat Perjanjian Damai dengan Israel

Pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981 terjadi saat ia meresmikan kesepakatan damai dengan Israel dalam parade militer di Kairo, disusupi oleh kelompok radikal yang menolak kebijakan tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 19.35 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Pembunuhan Presiden Mesir Akibat Perjanjian Damai dengan Israel📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 6 Oktober 1981, dunia kembali terguncang oleh tragedi politik yang menimpa Mesir. Presiden Anwar Sadat, yang baru saja menandatangani perjanjian damai dengan Israel, tewas dalam aksi pembunuhan berencana saat berada di tribun utama parade militer di Kairo. Acara yang awalnya dimaksudkan sebagai bentuk perayaan atas keberhasilan militer Mesir dalam Perang Yom Kippur 1973, berubah menjadi tempat kejatuhan seorang pemimpin yang dianggap berani namun kontroversial.

Saat iring-iringan kendaraan militer melintas, sebuah truk berhenti tepat di depan tribun. Seorang perwira turun, memberi hormat kepada Sadat, yang kemudian membalas dengan bangkit dari kursinya. Tindakan itu justru menjadi sinyal awal dari serangan brutal. Dalam hitungan detik, tiga granat dilemparkan ke arah tribun, disusul tembakan dari senapan otomatis yang berasal dari truk tersebut. Kekacauan seketika melanda, menyebabkan korban tewas di tempat, termasuk presiden.

Sadat sempat dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi, namun nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal pada hari yang sama. Insiden ini menandai akhir dari era diplomasi berani yang digagas Sadat, yang melibatkan perjanjian damai Camp David dengan Perdana Menteri Israel Menachem Begin pada Maret 1979, disaksikan Presiden AS Jimmy Carter. Keputusan tersebut dianggap sebagai terobosan historis, namun juga memicu kemarahan besar di kalangan masyarakat Mesir yang menilai bahwa perdamaian itu mengorbankan perjuangan Palestina.

Pelaku utama serangan adalah Letnan Khalid Islambouli, yang merupakan anggota kelompok radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan Sadat yang dinilai mengkhianati idealisme anti-zionisme yang telah menjadi dasar politik Mesir sejak berdirinya negara Israel pada 1948. Meski kelompok tersebut sempat ditekan, jaringannya tetap ada, dan Islambouli berhasil melaksanakan aksinya dalam momen paling terbuka dan terlindungi. Ia tertangkap di lokasi kejadian dan kemudian dieksekusi mati pada 15 April 1982.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya