Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Taylor Swift Jadi Inspirasi Nama Serangga Baru di Australia

Nama Taylor Swift diabadikan dalam penamaan genus dan empat spesies serangga baru dari Australia, berkat inisiatif peneliti yang ingin tingkatkan kesadaran konservasi serangga.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 19.24 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Taylor Swift Jadi Inspirasi Nama Serangga Baru di Australia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah temuan ilmiah terbaru menghadirkan penghormatan unik kepada musisi global Taylor Swift, dengan namanya menjadi dasar penamaan genus dan empat spesies serangga baru yang berasal dari Australia. Penelitian yang dipimpin oleh tim dari University of California, Riverside (UCR), mengungkapkan 12 spesies baru dari famili Miridae, yang secara khusus diberi nama terinspirasi dari nama sang penyanyi dan judul album populer miliknya.

Genus baru yang diberi nama Swiftiephylus menjadi simbol pengakuan terhadap komunitas penggemar bernama Swiftie, sementara empat spesiesnya diidentifikasi dengan nama Taylorae, Amator, Intrepidus, dan Poetorum, masing-masing mengacu pada lagu dan album seperti *Lover*, *Fearless*, dan *The Tortured Poets Department*. Pemilihan nama ini bukan sekadar ekspresi fandom, melainkan strategi komunikasi ilmiah untuk menarik perhatian publik terhadap pentingnya keanekaragaman hayati.

Peneliti utama, Sarah Schroeder, yang merupakan kandidat doktor entomologi, menjelaskan bahwa pilihan nama ini lahir dari kecintaannya terhadap karya Taylor Swift. Ia berharap penggunaan nama populer dapat memicu minat masyarakat terhadap serangga—yang sering diabaikan—dan mendorong aksi perlindungan terhadap spesies yang rentan punah. Selain alasan ilmiah, penampilan serangga juga turut memengaruhi keputusan penamaan, dengan warna tubuh kuning pucat dan merah yang dikaitkan dengan rambut pirang dan lipstik ikonik Taylor Swift.

Serangga tersebut ditemukan di habitat pohon she-oak khas Australia dan tidak berbahaya bagi manusia maupun satwa lain. Meskipun spesimen telah dikumpulkan antara tahun 1995 hingga 2004 melalui kerja sama antara American Museum of Natural History dan peneliti Australia, baru kini hasil identifikasi taksonomi resmi dilakukan. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal *Insect Systematics and Evolution*, menandai peran penting ilmuwan dalam menghubungkan budaya pop dengan kelestarian alam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya