Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia di Tengah Ring of Fire, Bencana Bukan Tanda Ketidakstabilan

Presiden Prabowo menegaskan bahwa aktivitas vulkanik dan gempa di Indonesia merupakan konsekuensi alamiah dari posisi geografis di kawasan Ring of Fire, bukan indikasi anomali.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 19.45 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 8x dibuka
Indonesia di Tengah Ring of Fire, Bencana Bukan Tanda Ketidakstabilan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa fenomena erupsi lima gunung api dalam periode singkat serta gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores merupakan bagian tak terhindarkan dari kondisi geologis Indonesia. Dalam rapat terbatas daring, ia menyatakan bahwa negara ini berada di zona Ring of Fire, sehingga kesiapan menghadapi bencana alam harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan pemerintah. Ia menilai bahwa peristiwa tersebut bukan kejadian luar biasa, melainkan bagian dari realitas geografis yang harus dipahami dan dikelola secara strategis.

Kawasan Ring of Fire, yang membentang sepanjang 40.250 kilometer dalam bentuk tapal kuda, merupakan daerah dengan aktivitas tektonik paling tinggi di dunia. Wilayah ini melibatkan pertemuan tiga lempeng utama—Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia—yang menyebabkan subduksi, pembentukan palung laut dalam, serta pelepasan energi yang berujung pada gempa dan letusan gunung berapi. Dari lebih 450 gunung berapi aktif di dunia, sekitar 90 persen berada di kawasan ini, menjadikannya pusat utama aktivitas vulkanik dan kegempaan global.

Ahli kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa tidak ada bukti peningkatan aktivitas gempa secara global. Secara statistik, Bumi mencatat sekitar 500.000 gempa per tahun, dengan 450.000 di antaranya terjadi di sekitar Ring of Fire. Rata-rata, terjadi sekitar 1.200 gempa setiap hari di wilayah tersebut. Kepanikan publik terhadap kejadian beruntun disebabkan oleh klasterisasi waktu dan penyebaran informasi instan melalui media sosial, bukan karena tren aktivitas yang meningkat secara ilmiah.

Daryono menegaskan bahwa gempa di wilayah seperti Venezuela, Jepang, atau California tidak berdampak langsung ke Indonesia karena jarak dan sistem tektonik yang terpisah. Kekhawatiran nyata seharusnya tertuju pada aktivitas gempa lokal dan regional di dalam wilayah Indonesia sendiri, yang terus terjadi akibat interaksi lempeng tektonik. Ia menekankan bahwa kejadian-kejadian ini adalah bagian dari siklus alamiah pelepasan ketegangan batuan, bukan tanda ketidakstabilan bumi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya