Minggu, 27 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mengatasi Anak Pilih-Pilih Makanan dengan Pendekatan Berkelanjutan

UNICEF mengungkap strategi efektif menghadapi anak yang pilih-pilih makanan, mulai dari pengenalan makanan baru hingga peran orang tua sebagai contoh positif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 27 September 2026, 17.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Mengatasi Anak Pilih-Pilih Makanan dengan Pendekatan Berkelanjutan📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Anak yang menolak makanan tertentu atau hanya menyukai beberapa jenis makanan memang sering menjadi perhatian bagi orang tua. Kondisi ini umum terjadi pada usia balita, saat sistem persepsi rasa dan preferensi makanan masih dalam tahap perkembangan. Meskipun demikian, penting bagi orang tua untuk tidak panik, selama anak tetap tumbuh secara fisik dan mental dengan baik. Fokus utama tetap pada pemenuhan nutrisi, bukan memaksa konsumsi makanan tertentu.

Salah satu pendekatan utama yang disarankan adalah terus mengenalkan makanan baru secara konsisten. Anak sering membutuhkan beberapa kali pencobaan sebelum menerima rasa atau tekstur makanan yang berbeda. Alih-alih menghentikan penyajian makanan yang ditolak, orang tua sebaiknya menyajikannya kembali dalam waktu berbeda, bahkan dengan mencampurnya secara halus dengan makanan yang sudah disukai. Perubahan selera bisa terjadi seiring waktu, terutama jika kebiasaan ini dilakukan secara sabar dan konsisten.

Penting juga untuk menyediakan pilihan makanan bergizi yang beragam dan sesuai usia. Tidak perlu memaksa anak menghabiskan semua makanan yang disajikan. Yang lebih penting adalah menawarkan variasi sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta buah dan sayuran dalam bentuk yang menarik secara visual. Melibatkan anak dalam proses memilih dan menyiapkan makanan, seperti berbelanja atau menata bahan, dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan rasa memiliki terhadap makanan tersebut.

Orang tua juga diminta untuk menghindari memaksa anak makan atau menggunakan makanan sebagai imbalan. Mengaitkan makanan tertentu dengan hadiah bisa menimbulkan perbedaan nilai yang keliru dalam memandang makanan. Sebagai gantinya, apresiasi bisa diberikan dalam bentuk kegiatan positif seperti membaca buku bersama atau bermain di luar ruangan. Selain itu, orang tua sendiri harus menjadi teladan dengan menunjukkan kebiasaan makan sehat dan terbuka terhadap makanan baru.

Dengan pendekatan yang konsisten, sabar, dan menghargai tahapan perkembangan anak, orang tua dapat membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan makanan. Tujuannya bukan hanya mengatasi kebiasaan pilih-pilih makan, tetapi membentuk pola makan yang berkelanjutan seumur hidup, di mana anak belajar mengenali rasa lapar dan kenyang secara alami.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya