Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Eks Mendag Soroti Tekanan Asing Terkait Klasifikasi Bursa Indonesia

Mantan Menteri Perdagangan menyoroti dugaan intervensi asing dalam rencana penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, yang berpotensi memengaruhi akses investor global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 12.21 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 97x dibuka
Eks Mendag Soroti Tekanan Asing Terkait Klasifikasi Bursa Indonesia📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - MSCI kini tengah membuka konsultasi publik terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market menuju Standalone Market. Mantan Menteri Perdagangan menyatakan bahwa langkah ini bukan sekadar urusan peringkat indeks, melainkan menyangkut kepentingan strategis nasional, termasuk akses terhadap aset-aset kunci dan kebijakan pengendalian modal. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak menerapkan pembatasan modal secara formal, sehingga penurunan klasifikasi dinilai tidak sesuai dengan realitas struktural pasar.

Ia mengungkapkan kecurigaan adanya tekanan dari institusi investasi asing, khususnya dari Singapura, termasuk Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC). Dalam pernyataan di media sosial, ia menyebut nama Rachel Goh dari GIC yang diduga turut mendorong perubahan klasifikasi tersebut. "Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan. Come on, Rachel, don't you know walls in Jakarta do talk and scream?" ujarnya, menyoroti potensi konflik kepentingan yang tersembunyi di balik proses independen MSCI.

Menurutnya, keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia—sekitar 80% menurut estimasinya—tidak serta-merta menunjukkan fundamental yang lemah. Ia menyoroti bahwa pasar tetap stabil karena harga saham tidak anjlok signifikan saat arus keluar terjadi. Akibatnya, investor asing yang telah meninggalkan pasar kini kesulitan kembali masuk pada level harga lebih rendah, karena pasar tidak turun sebagaimana yang diharapkan. Dugaan ini mengarah pada skenario manipulatif, di mana ancaman penurunan klasifikasi digunakan untuk menciptakan kepanikan.

Ia menyatakan bahwa upaya menurunkan klasifikasi pasar bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan harga saham secara massal, sehingga memungkinkan investor besar membeli aset unggulan dengan harga diskon. Namun, ia menekankan bahwa klaim tersebut belum didukung bukti konkret dan perlu diverifikasi lebih lanjut. Keputusan akhir MSCI harus berdasarkan metodologi yang transparan, hasil konsultasi dengan pelaku pasar, serta evaluasi terhadap aksesibilitas dan investabilitas pasar saham Indonesia secara objektif.

Dalam penutupnya, eks menteri menekankan pentingnya kesatuan nasional dalam menjaga kepentingan ekonomi dalam kondisi tekanan global. Ia mengajak masyarakat untuk tidak terpecah dan menjaga harga diri bangsa, karena persoalan ini bukan semata soal indeks pasar, melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan kekayaan negara.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya