Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China

Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di kawasan Glodok, Jakarta Barat, aktivitas jual beli kipas angin menunjukkan dominasi merek lokal yang diproduksi dalam negeri, meski sejumlah komponen utamanya berasal dari China. Pantauan terhadap pedagang di Plaza Glodok menunjukkan bahwa merek CKE menjadi pilihan utama, dengan proses perakitan dilakukan di Tanah Air. Namun, kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa sebagian besar suku cadang seperti motor dan rangkaian elektronik masih dipasok dari luar negeri, khususnya dari wilayah Tiongkok.

Salah satu pedagang, Surya, mengungkapkan bahwa keberadaan kipas merek China sangat kental di pasar karena ketersediaan suku cadang yang mudah didapatkan. Ia menyebut bahwa meskipun merek CKE diproduksi di Indonesia, komponennya tetap berasal dari China, sehingga menimbulkan ketergantungan terhadap impor. Meski begitu, ia tetap menyediakan kipas bermerek Jepang untuk memenuhi permintaan pelanggan yang lebih memilih produk dengan reputasi kualitas tinggi.

Harga menjadi pertimbangan utama dalam dominasi merek China di pasar Glodok. Menurut Surya, kipas angin dengan harga mulai dari Rp200.000 sudah bisa dibeli, menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang membutuhkan perangkat pendingin dasar. “Harganya lebih murah, jadi banyak yang pilih,” ujarnya, menegaskan bahwa keberadaan merek Jepang tetap dipertahankan meski tidak mendominasi.

Wawan, pedagang lain yang hanya menjual kipas merek CKE, menekankan bahwa produk tersebut dikenal kuat dan tahan lama, cocok untuk kebutuhan industri seperti gudang, toko, dan pabrik di wilayah Jakarta Utara. Ia menilai bahwa CKE menjadi pilihan utama karena kinerja yang sesuai dengan kondisi lingkungan kerja yang panas dan padat. Meski komponennya impor, proses perakitan lokal dan kinerja produk yang stabil membuatnya tetap diminati pasar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya