Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Humas Jembatan Kebijakan dan Masyarakat

Wamendagri tekankan peran humas sebagai penjembat kebijakan pemerintah dengan publik melalui komunikasi dua arah dan kepercayaan berkelanjutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 21.08 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 30x dibuka
Humas Jembatan Kebijakan dan Masyarakat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Dalam Negeri menekankan pentingnya fungsi humas dalam menyelaraskan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat. Dalam forum Konvensi Humas Indonesia 2026 di Surakarta, ia menyampaikan bahwa insan humas bukan sekadar penyebar informasi, melainkan mediator utama dalam memastikan kebijakan dan program pembangunan dipahami secara luas dan relevan di tingkat lokal. Komunikasi yang efektif, menurutnya, harus didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap realitas sosial yang ada di lapangan.

Ia menyoroti tantangan utama saat ini: menjaga koneksi antara pemerintah dan masyarakat secara terus-menerus. “Kunci utamanya adalah bagaimana kita tetap terhubung dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan komunikasi publik tergantung pada kemampuan menyampaikan pesan secara personal, responsif, dan berbasis pada dialog nyata, bukan sekadar pengumuman formal.

Bima menekankan perlunya pendekatan komunikasi dua arah, baik melalui media digital maupun interaksi langsung seperti silaturahmi dan jaringan sosial. Ia menilai bahwa dunia komunikasi modern tidak boleh hanya terbatas pada layar gadget, tetapi harus menyentuh kehidupan nyata masyarakat. Dengan demikian, aspirasi publik dapat terserap secara efektif, sementara pemerintah pun memperoleh masukan untuk menyempurnakan kebijakan.

Kepercayaan publik, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam kehumasan. Kepercayaan tidak dibangun dari retorika semata, melainkan dari konsistensi nilai, keteladanan, dan keselarasan antara ucapan, pikiran, dan tindakan. “Trust adalah konsistensi, nilai, artikulasi, dan leading by example,” tegasnya. Ia menekankan bahwa pesan pemerintah harus didukung oleh aksi nyata agar tidak terkesan kosong atau jauh dari realitas.

Untuk memperkuat identitas nasional, Bima mendorong penguatan narasi kebangsaan melalui kisah-kisah inspiratif tokoh dari berbagai daerah. Narasi semacam ini, menurutnya, tidak hanya memperkuat rasa kebersamaan, tetapi juga menjadi sumber motivasi bagi generasi muda. “Itu bukan sekadar kata-kata, tapi inspirasi yang terus hidup,” pungkasnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya