Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Tertekan Hingga Sentuh Level Terendah Sejak Pandemi

Pelemahan tajam IHSG ke bawah 5.000 disebabkan sentimen negatif dari usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI, namun pemerintah menilai dinamika ini wajar dan masih ada ruang respons hingga Juni 2027.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 23.17 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 71x dibuka
IHSG Tertekan Hingga Sentuh Level Terendah Sejak Pandemi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan tajam, menutup perdagangan hari ini di level 4.996,61, merosot 3,64% atau turun 188,49 poin dari penutupan sebelumnya. Pergerakan ini menjadi yang paling dalam sejak masa pandemi, seiring dengan lonjakan penurunan harian sebesar 11,57% atau 678,675 poin pada hari sebelumnya. Tekanan pasar terus memburuk setelah pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memulai konsultasi publik terkait kemungkinan mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Pengumuman ini memicu kekhawatiran di kalangan investor global terhadap keberlanjutan kelayakan investasi di pasar modal Tanah Air. Alasan utama yang disebutkan meliputi rendahnya transparansi, ketidakpastian kebijakan, serta adanya dugaan praktik manipulasi harga saham. Meski demikian, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penurunan ini merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar, terlebih dengan adanya mekanisme auto rejection 7% yang membantu menstabilkan volatilitas.

Ia menilai bahwa kekhawatiran terhadap penurunan IHSG hingga menyentuh level terendah sejak 2020 adalah hal yang biasa, tergantung pada sentimen global dan isu pasar. “Ya, naik turun itu wajar. Tergantung pada isu yang muncul,” ujarnya. Airlangga menekankan bahwa proses konsultasi publik oleh MSCI masih berlangsung hingga Juni 2027, sehingga belum ada keputusan final yang berdampak langsung. Ia memandang langkah MSCI sebagai bentuk peringatan yang kerap dilakukan, namun tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

Di sisi lain, Kepala Badan Pengatur BUMN dan COO BPI Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa IHSG di bawah 5.000 bukan indikator kelemahan ekonomi nasional. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, sehingga perusahaan plat merah dengan kinerja baik menjadi target strategis untuk penambahan kepemilikan. “Kami akan ambil kesempatan ini untuk menambah kepemilikan di BUMN yang memiliki fundamental kuat. Tidak ada alasan untuk khawatir,” tegasnya, menegaskan komitmen Danantara Investment Manajemen dalam memperkuat portofolio melalui investasi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya