Selasa, 13 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Siap Perkuat Pasar Karbon di COP31 Turki

Pemerintah siapkan kerangka kebijakan pasar karbon untuk dorong investasi hijau dan konsistensi aksi iklim di COP31 Antalya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Indonesia Siap Perkuat Pasar Karbon di COP31 Turki📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia menegaskan komitmen memperkuat pasar karbon sebagai bagian utama dari strategi persiapan delegasi menuju Konferensi Iklim Dunia ke-31 (COP31) di Antalya, Turki. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa pemerintah berupaya menjadikan pasar karbon sebagai instrumen strategis yang dapat mendorong transformasi ekonomi berkelanjutan sekaligus menarik aliran investasi global untuk aksi iklim.

Upaya ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berimbang. Menurut Zulhas, pasar karbon yang kredibel dan transparan akan menjadi mesin pembiayaan hijau yang efektif, khususnya dalam mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang telah memberi dampak nyata pada produksi pangan dan kehidupan masyarakat.

Pemerintah telah menyiapkan dasar hukum melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Sebagai Ketua Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon dan Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, Zulhas menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam mewujudkan kerangka kerja yang terintegrasi.

Dalam konteks ekonomi hijau, pemerintah fokus pada sektor hutan dan lahan, energi, pertanian, industri, pengelolaan sampah, serta karbon biru di wilayah pesisir. Di bidang pangan, pendekatan seperti pertanian cerdas, budi daya perairan berkelanjutan, padi rendah emisi, dan silvofishery di kawasan mangrove akan diperluas. Pengelolaan lahan terdegradasi juga menjadi prioritas untuk meningkatkan penyerapan karbon dan membuka peluang ekonomi produktif.

Transformasi sistem pengelolaan sampah menuju ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan sampah menjadi energi melalui kerja sama dengan Danantara dan pemerintah daerah, diharapkan mampu menekan emisi metana sekaligus menguatkan ketahanan energi. Di wilayah laut, pengembangan karbon biru melalui konservasi dan restorasi mangrove akan dilakukan dengan melibatkan masyarakat pesisir agar manfaat ekonomi dan lingkungan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Penguatan riset dan inovasi, khususnya melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjadi kunci dalam mendorong penerapan teknologi ramah lingkungan dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi. Menjelang COP31, Zulhas menegaskan bahwa delegasi Indonesia harus mampu menghadirkan kerja sama konkret dan investasi nyata yang mendukung perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi hijau secara berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya