Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Capai 633, 3.000 Masih Hilang

Jumlah korban tewas akibat bencana banjir bandang dan longsoran di Nepal mencapai 633 orang, dengan lebih dari 3.000 orang masih hilang setelah operasi pencarian dilanjutkan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.45 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Capai 633, 3.000 Masih Hilang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah pegunungan Himalaya di Nepal telah menewaskan 633 orang, sementara jumlah korban yang masih hilang diperkirakan mendekati angka 3.000. Operasi pencarian dan penyelamatan kembali digelar setelah sempat dihentikan akibat risiko bencana susulan yang mengancam keselamatan tim penolong. Otoritas bencana Nepal melaporkan bahwa total warga yang belum ditemukan mencapai 2.426 jiwa, termasuk 517 warga negara asing, sebagian besar turis dan pekerja asing yang berada di kawasan terdampak.

Kondisi darurat memaksa pemerintah Nepal mengubah kebijakan sebelumnya yang menolak bantuan asing. Kini, pihak berwenang mengundang tim spesialis dari India dan Tiongkok untuk membantu proses penyelamatan, terutama para ahli dalam operasi penyelamatan terowongan. Keputusan tersebut diambil karena situasi di lapangan dinilai sangat kritis, di mana setiap detik berharga bagi nyawa korban yang masih terjebak.

Kepala juru bicara kementerian luar negeri Nepal menjelaskan bahwa awalnya negara tidak mengizinkan bantuan internasional karena khawatir akan terjadi keributan dan gangguan logistik akibat kedatangan tim besar dari berbagai negara. Namun, dengan situasi yang semakin memburuk, keputusan itu dipertimbangkan ulang demi keselamatan jiwa manusia.

Di wilayah tetangga, Tibet, China melaporkan setidaknya tujuh orang tewas akibat bencana serupa, dengan 554 orang lainnya masih hilang. Peristiwa ini dipicu oleh longsoran es dan batuan yang menghantam Sungai Lhende Khola, yang mengalir melalui wilayah Nepal dan Tibet. Meski awalnya dikaitkan dengan gempa bumi, analisis dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan tidak ada aktivitas seismik sebelum kejadian, sehingga penyebab utama diperkirakan lebih berhubungan dengan keruntuhan gletser akibat perubahan iklim dan tekanan geologis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya