Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi

Film horor misteri *Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah* resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026, mengangkat kisah pembunuhan berantai di 1964 yang terkait erat dengan gejolak politik dan konflik ideologi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 09.06 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Film horor misteri berjudul *Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah* mulai diputar di seluruh bioskop Tanah Air pada 1 Oktober 2026. Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, film ini dibintangi utama oleh Baskara Mahendra yang memerankan Letnan Soegeng, tokoh utama yang ditugaskan menyelidiki serangkaian temuan jenazah misterius di Desa Lobang Buaya, Jakarta. Kejadian tersebut terjadi pada masa ketegangan sosial dan politik tinggi, di mana Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi sasaran kecaman dan kebencian massal.

Temuan jenazah yang ditemukan dalam kondisi ekstrem—punggung berlubang dan tato berupa kata-kata seperti "Tamak", "Lamis", dan "Maruk" di dahi—menyulut ketakutan masyarakat. Setiap penemuan terjadi pada tanggal 30 setiap bulan, menimbulkan pola yang mengarah pada kejahatan terorganisir, bukan sekadar kejadian alamiah. Di tengah kekacauan itu, Soegeng menghadapi ancaman teror mistis, termasuk pengalaman horor yang dialami istrinya, Arum Wangi (diperankan Carissa Perusset), yang terus didatangi arwah perempuan bernama "ronggeng".

Melalui penyelidikan yang melelahkan, Soegeng menyadari bahwa semua insiden tersebut bukanlah kejadian acak, melainkan bagian dari ritual tersembunyi yang dirancang untuk menimbulkan kepanikan dan mengalihkan perhatian dari konflik politik yang sedang membelah bangsa. Film ini, yang merupakan karya ketiga Hanung Bramantyo dalam genre horor dan kolaborasi kedua dengan penulis Haqi Achmad, hadir sebagai upaya menyampaikan kembali peristiwa sejarah kelam 1965 kepada generasi muda melalui narasi yang menegangkan dan penuh misteri.

Hanung Bramantyo menegaskan bahwa film ini bukan hanya untuk hiburan, melainkan sebagai pengingat akan tragedi nasional yang melibatkan konflik ideologi, penculikan jenderal, serta peran kelompok yang dianggap merusak stabilitas sosial, seperti birokrat koruptor dan rentenir—yang dalam film digambarkan sebagai "7 Setan Desa". Dengan latar belakang yang kuat dan narasi yang intens, film ini dirancang untuk menarik perhatian generasi muda yang cenderung abai terhadap sejarah, sekaligus mengajak refleksi tentang dampak politik terhadap kehidupan rakyat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya