Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

OJK Soroti Ancaman Deepfake dalam Investasi Saham

OJK memperingatkan masyarakat soal modus penipuan investasi berbasis AI dan deepfake yang meniru tokoh publik untuk menarik minat investor secara menyesatkan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 21.05 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 29x dibuka
OJK Soroti Ancaman Deepfake dalam Investasi Saham📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan publik untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penipuan di pasar modal yang kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, termasuk deepfake. Teknologi tersebut mampu menciptakan video dan rekaman suara palsu yang sangat menyerupai tokoh publik maupun profesional keuangan, dengan tujuan mempromosikan instrumen investasi tertentu secara menyesatkan. Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK menegaskan bahwa meski perkembangan digital memudahkan akses informasi, hal ini juga membuka celah bagi pelaku kejahatan digital yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk menipu.

Modus baru ini tidak hanya mengandalkan rekaman palsu, tetapi juga memanfaatkan identitas lembaga keuangan resmi secara ilegal untuk menawarkan produk dengan janji imbal hasil tinggi tanpa risiko. Edi menekankan pentingnya kritis terhadap informasi yang beredar melalui media sosial dan aplikasi pesan, terutama yang menawarkan keuntungan instan. Ia menyarankan masyarakat untuk selalu memverifikasi legalitas pihak yang menawarkan investasi, memahami risiko produk, serta menghindari keputusan berdasarkan iming-iming keuntungan yang tidak realistis.

Dalam menjaga keamanan data pribadi, OJK menegaskan bahwa tidak ada alasan yang sah untuk menyerahkan kata sandi, PIN, atau kode OTP kepada siapa pun. Pelanggaran ini bisa menjadi pintu masuk bagi penipuan yang berakibat kerugian finansial besar. Untuk itu, OJK mengajak masyarakat membiasakan tiga prinsip dasar: memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya, memahami produk sebelum berinvestasi, dan memastikan tujuan serta keabsahan transaksi sebelum melakukan transfer dana.

Edi juga menekankan bahwa investasi bukan tentang mengejar kekayaan cepat, melainkan proses jangka panjang dalam membangun kesejahteraan finansial yang stabil. Investor perlu memahami bisnis perusahaan, kondisi keuangan, dan prospeknya sebelum membeli saham, bukan hanya berdasarkan tren di media sosial atau tekanan psikologis seperti FOMO. Kecerdasan investasi terletak pada kemampuan membuat keputusan mandiri berdasarkan pengetahuan dasar, bukan keahlian teknis.

Ketahanan investasi, menurutnya, dibangun dari disiplin, pengelolaan emosi, dan perencanaan yang matang. Investor yang tangguh bukan yang tidak pernah rugi, melainkan yang mampu bertahan saat pasar turun dan tetap menjaga konsistensi dalam strategi. Untuk itu, perlu adanya tujuan jelas, dana darurat, diversifikasi aset, serta penyesuaian keputusan dengan profil risiko dan kemampuan finansial. Kesadaran akan risiko adalah fondasi utama dari investasi yang berkelanjutan dan sehat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya