Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sekolah AS Gagal Wujudkan Makanan Segar karena Infrastruktur dan Anggaran Terbatas

Penerapan kebijakan makanan sehat di sekolah Amerika Serikat terhambat oleh keterbatasan fasilitas, tenaga kerja, dan anggaran, meski pemerintah berjanji dukungan finansial.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 21.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Sekolah AS Gagal Wujudkan Makanan Segar karena Infrastruktur dan Anggaran Terbatas📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penerapan kebijakan peningkatan kualitas makanan sekolah di Amerika Serikat menghadapi tantangan serius di lapangan, terutama terkait infrastruktur dapur, ketersediaan staf, dan alokasi dana. Di Thomas Hooker Elementary School, Connecticut, tiga petugas kafetaria harus menyediakan makan siang untuk 300 siswa dengan peralatan dan ruang yang sangat terbatas. Prosesnya masih mengandalkan makanan siap saji seperti nugget beku dan hamburger instan, yang hanya perlu dipanaskan, karena tidak ada dapur yang memadai sejak sekolah dibangun pada era 1960-an.

Upaya perbaikan dilakukan di Meriden Public Schools, yang mengubah tiga ruang kecil menjadi dapur operasional. Namun, penataan ruang yang tidak terintegrasi—meja pengelola bersebelahan dengan bak cuci, sementara kompor dan lemari pendingin tersebar di ruangan terpisah—menunjukkan keterbatasan desain dan keterjangkauan. Direktur layanan makanan dan nutrisi, Susan Maffe, menyatakan kondisi tersebut "sangat menantang", mencerminkan realitas banyak sekolah yang belum siap mendukung rencana pemerintah mengurangi makanan ultra-proses.

Kebijakan Make America Healthy Again, yang digagas oleh pemerintahan Trump, menekankan pentingnya menyajikan makanan segar, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas, sambil mengurangi gula tambahan dan makanan olahan. Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr. menegaskan komitmen tersebut dalam pernyataan yang dikutip dari CNN. Pemerintah pun menjanjikan hibah US$70 juta dari USDA dan investasi US$30 juta dari HHS untuk mendukung transformasi sistem makanan sekolah. Namun, para pengelola menilai dana tersebut terlalu kecil dibanding kebutuhan nyata di lapangan.

Di Connecticut, hanya US$209.000 yang cair untuk seluruh negara bagian, padahal Meriden sendiri menghabiskan lebih dari US$300.000 tahun lalu untuk peralatan. Survei School Nutrition Association menunjukkan hanya 16% distrik menyajikan makanan buatan dari awal setiap hari, sementara 93% mengaku butuh tambahan staf, pelatihan kuliner, dan infrastruktur. Keterbatasan tenaga kerja juga menjadi masalah utama, karena pekerja kafetaria sulit diperoleh karena upah di sektor ritel atau logistik lebih tinggi.

Beberapa distrik seperti Littleton di Colorado berhasil menunjukkan kemajuan dengan membangun dapur produksi pusat senilai US$4 juta. Dapur ini memungkinkan tiga koki memproduksi makanan seperti pancake zucchini, taco daging sapi lokal, dan saus marinara untuk didistribusikan ke 21 sekolah. Persentase makanan buatan dari awal meningkat dari 25% menjadi lebih dari dua kali lipat. Namun, perubahan menu masih menghadapi tantangan dari selera siswa yang terbiasa dengan makanan instan seperti mac and cheese. Menurut Jessica Gould, direktur layanan nutrisi, tantangan terbesar berikutnya adalah mengubah preferensi konsumsi anak-anak menuju makanan sehat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya