Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AI Prediksi Kelangsungan Hidup Pasien Kanker dari Foto Wajah

Teknologi kecerdasan buatan kini mampu memperkirakan peluang hidup pasien kanker hanya berdasarkan satu foto wajah, berkat pengembangan alat berbasis analisis wajah yang akurat dan konsisten.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 12.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AI Prediksi Kelangsungan Hidup Pasien Kanker dari Foto Wajah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah inovasi medis berbasis kecerdasan buatan berhasil menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memprediksi kelangsungan hidup pasien kanker hanya dari satu swafoto. Pengembangan ini dilakukan oleh tim dokter dari Mass General Brigham, sistem layanan kesehatan nirlaba di Massachusetts, Amerika Serikat. Teknologi ini tidak hanya menilai usia biologis berdasarkan penampilan wajah, tetapi juga memberikan gambaran tentang prognosis kesehatan jangka panjang, terutama bagi pasien yang sedang menjalani terapi kanker.

Model AI ini dilatih menggunakan lebih dari 40 juta gambar wajah dari beragam latar belakang etnis dan rentang usia, memungkinkan sistem mengenali pola halus yang berkaitan dengan kondisi kesehatan. Dua alat utama dikembangkan dari teknologi ini: FAHR-FaceAge untuk menaksir usia biologis, dan FAHR-FaceSurvival yang secara langsung memprediksi kelangsungan hidup pasien tanpa harus melalui perhitungan usia terlebih dahulu. Kedua alat menggunakan basis model yang sama, namun fokus pada area wajah berbeda untuk menggali informasi klinis yang lebih spesifik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang tampak lima tahun atau lebih tua dari usia sebenarnya memiliki risiko kematian 21 persen lebih tinggi selama empat tahun setelah perawatan radioterapi dibandingkan dengan mereka yang tampak lebih muda. Sebaliknya, pasien yang tampak lima tahun lebih muda dari usianya memiliki risiko kematian 17 persen lebih rendah. Alat ini berbasis pada analisis detail seperti lipatan di sekitar hidung dan mulut untuk FAHR-FaceAge, serta area di bawah mata dan pangkal hidung untuk FAHR-FaceSurvival, yang dianggap mencerminkan kondisi fungsional tubuh secara lebih akurat.

Para peneliti menekankan bahwa tujuan utama teknologi ini bukan menggantikan dokter, melainkan menyediakan alat bantu yang kuantitatif dan konsisten dalam menilai kondisi pasien. Menurut ahli onkologi radiasi Raymond Mak, kemampuan ini sangat penting di tengah pertumbuhan populasi lanjut usia, di mana dokter perlu memastikan pasien memiliki daya tahan fisik yang memadai sebelum menjalani perawatan intensif seperti kemoterapi atau operasi.

Meski menjanjikan, tim peneliti menegaskan bahwa penggunaan teknologi ini masih dalam tahap pengujian dan memerlukan penelitian lanjutan sebelum diterapkan secara luas. Namun, terobosan ini membuka peluang besar bagi personalisasi perawatan medis berbasis data visual yang murah, cepat, dan dapat diakses secara luas, tanpa memerlukan alat mahal atau prosedur invasif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya