Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Tekankan Konservasi Air Lewat Pengelolaan Daratan Terpadu

Pemerintah menegaskan perlindungan ekosistem perairan harus dimulai dari pelestarian lahan, melalui pendekatan terintegrasi dan partisipasi masyarakat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 12.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Indonesia Tekankan Konservasi Air Lewat Pengelolaan Daratan Terpadu📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia menekankan bahwa upaya menjaga kelestarian ekosistem perairan tidak bisa dilepaskan dari perlindungan ekosistem daratan yang saling terkait. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa keberhasilan dalam mengelola sumber daya air sangat ditentukan oleh kondisi lahan di sekitarnya. Dalam pernyataannya pasca penutupan Konferensi Air Internasional Kesebelas di Bali, ia menekankan bahwa pendekatan terpadu dari hulu ke hilir merupakan fondasi utama untuk keberlanjutan lingkungan.

Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) dan Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) menjadi salah satu wujud konkret dari pendekatan ini, di mana masyarakat diberdayakan sebagai pelaku utama dalam konservasi ekosistem. Melalui dua inisiatif tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penjaga lingkungan, tetapi juga mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari pemulihan kawasan alami. Pendekatan partisipatif ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mengintegrasikan keberlanjutan ekologis dengan kesejahteraan sosial.

Di sisi pengelolaan limbah, kementerian menyoroti urgensi menangani sampah plastik sejak sumbernya. Sampah yang tidak dikelola dengan baik di darat menjadi ancaman utama terhadap kualitas air sungai dan laut. Untuk itu, pemerintah sedang menyusun kebijakan baru berupa extended producer responsibility, yang mewajibkan produsen mengambil kembali kemasan produk setelah digunakan. Selain itu, ribuan fasilitas pengelolaan limbah yang sempat mangkrak kini sedang diprioritaskan untuk diaktifkan kembali guna mendukung sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Dalam konteks diplomasi lingkungan, Indonesia juga mengambil inisiatif global dengan mengusulkan resolusi tentang ekosistem karst pada United Nations Environment Assembly (UNEA) Desember 2025. Karst, sebagai reservoir alami air tanah berskala besar, dianggap krusial namun masih kurang mendapat perhatian global. Upaya ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menyuarakan isu strategis yang berdampak luas terhadap keseimbangan ekosistem dan ketersediaan air.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya