Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Kekerasan Mewabah di Prancis, 1.200 Orang Ditangkap

Gelombang protes di Prancis berujung kerusuhan masif, dengan 1.200 orang ditangkap, ratusan bangunan rusak, dan 150 polisi terluka dalam aksi yang menyebar di berbagai kota.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.39 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 55x dibuka
Aksi Kekerasan Mewabah di Prancis, 1.200 Orang Ditangkap📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertikaian sengit antara massa dan aparat keamanan melanda sejumlah kota di Prancis pada Sabtu (17/10), menyusul aksi demonstrasi yang awalnya berjalan damai namun berubah menjadi kekerasan terkoordinasi. Kekerasan meluas di Paris, Limoges, Lyon, Marseille, dan kota-kota lain, di mana bangunan publik dan komersial dibakar, toko dirusak, serta kendaraan dilalap api. Kepolisian melaporkan lebih dari 1.200 orang telah diamankan, sementara sekitar 550.000 orang dilaporkan turun ke jalan dalam gelombang protes terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Di Paris, suasana yang awalnya tenang berubah drastis menjelang malam. Aksi yang awalnya ditujukan untuk menuntut perbaikan layanan publik dan penurunan biaya hidup berubah menjadi aksi pembakaran dan penjarahan. Sejumlah toko, termasuk sebuah gerai Apple di Lille, dirusak dan dikuras isinya. Di Limoges, kebakaran hebat melanda balai kota, menyebabkan sebagian atap runtuh dan menimbulkan kerusakan serius pada struktur bangunan bersejarah tersebut. Petugas pemadam kebakaran menghadapi hambatan saat menangani api, karena sejumlah individu bersikap bermusuhan menghalangi upaya pemadaman.

Kerusuhan juga menewaskan seorang pemuda di Saint-Étienne akibat ledakan granat yang diduga dilemparkan oleh kelompok tidak dikenal. Wali kota kota tersebut, Régis Juanico, menyebut kejadian itu sebagai tragedi yang "tidak seharusnya terjadi". Di Lyon, wali kota Grégory Doucet menyatakan kebakaran kantor pariwisata sebagai "tragedi" yang merusak ikon kota. Kepolisian menyebut sejumlah "individu bertudung" sebagai pelaku utama aksi kekerasan yang disengaja, termasuk di Paris, Marseille, Rennes, dan Toulouse.

Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa kekerasan tidak akan dibiarkan, dengan menyatakan bahwa semua pelaku pembakaran, penjarahan, dan penyerangan terhadap fasilitas negara akan "dituntut dan dihukum". Ia menekankan bahwa negara akan bersatu menanggulangi pihak-pihak yang mencoba merusak stabilitas. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menambahkan bahwa aksi protes telah dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk "pemanasan politik" menjelang pemilihan presiden tahun depan, menyalahkan sejumlah tokoh politik yang disebutnya memicu eskalasi.

Meski sejumlah konsesi telah diumumkan, termasuk janji penambahan 3.000 guru pengganti untuk mengatasi kekurangan tenaga di sekolah menengah, aksi protes tetap berlanjut. Gerakan Gilets Jaunes, yang telah berlangsung sejak 2018, kembali menjadi pusat aksi, dengan dukungan dari serikat pekerja dan kelompok-kelompok aktivis. Meski beberapa tokoh politik seperti Jean-Luc Mélenchon mengecam kekerasan, mereka juga menekankan bahwa tuntutan rakyat harus didengar. Pemerintah menegaskan bahwa kekerasan tidak akan diperbolehkan sebagai alat perubahan, dan semua pelaku akan diproses secara hukum.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya