Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Mahasiswa Albania Ricuh, Gedung Kementerian Diserbu

Demonstrasi mahasiswa di Tirana berakhir ricuh saat massa melempari kementerian dengan batu dan beton, memicu respons polisi dengan gas air mata dan meriam air.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 15.23 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 31x dibuka
Aksi Mahasiswa Albania Ricuh, Gedung Kementerian Diserbu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Aksi demonstrasi yang berlangsung di ibu kota Albania, Tirana, pada Selasa (13/10/2026), berujung kerusuhan setelah sekelompok mahasiswa dan pelajar menyerbu gedung Kementerian Pendidikan. Mereka melemparkan batu bata dan bongkahan beton ke fasilitas publik, menandai eskalasi ketegangan dalam gelombang protes yang meluas. Kepolisian segera merespons dengan menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air dari meriam untuk membubarkan massa, sementara puluhan demonstran ditangkap dalam bentrokan yang terjadi di tengah aksi nasional.

Aksi ini digelar sebagai bentuk protes terhadap berbagai persoalan struktural dalam sistem pendidikan tinggi, termasuk biaya kuliah yang tinggi, minimnya bantuan finansial, serta prospek kerja yang terbatas bagi lulusan. Para penggerak aksi menekankan bahwa kondisi kampus yang memburuk dan kurangnya fasilitas mendukung proses belajar, menjadi pemicu utama aksi yang melibatkan puluhan ribu peserta. Selain isu pendidikan, sejumlah peserta juga mengungkapkan kekecewaan terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil.

Salah satu peserta, Luljeta Kola, menegaskan bahwa perubahan mendalam diperlukan untuk menyelesaikan krisis yang melanda Albania. “Sistem ini harus dirombak total. Revolusi bukan pilihan, tapi keharusan,” ujarnya, dilansir Reuters. Ia menyoroti kesenjangan ekonomi yang melebar antara kelompok miskin dan kaya, yang dinilai semakin mengikis keadilan sosial di negara tersebut. Aksi serupa juga terjadi di negara-negara Eropa lain, seperti Prancis dan Belgia, di mana pelajar sekolah menengah menggelar protes berhari-hari, termasuk memblokir akses ke sekolah demi menuntut penambahan guru dan perbaikan infrastruktur.

Wakil Perdana Menteri Albania, Albana Koçiu, menanggapi insiden tersebut dengan menegaskan bahwa kekerasan tidak bisa dibenarkan sebagai alat penyampaian aspirasi. Ia menyatakan melalui Facebook bahwa serangan terhadap institusi negara dan penyerangan terhadap aparat keamanan merupakan bentuk perusakan yang tidak dapat diterima. “Kekerasan tidak pernah menjadi solusi, dan tidak akan pernah menjadi cara yang sah bagi generasi muda untuk menyuarakan keberatan mereka,” tegasnya.

Aksi di Tirana menjadi bagian dari tren protes yang menyebar di Eropa, menunjukkan ketidakpuasan generasi muda terhadap sistem pendidikan dan kondisi sosial yang belum membaik. Meski mengakui keberadaan permasalahan, pemerintah menekankan pentingnya dialog damai sebagai jalan keluar dari krisis. Namun, tantangan besar tetap ada: bagaimana membangun mekanisme aspirasi yang efektif tanpa mengorbankan stabilitas publik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya