Anak Kartini Pilih Hidup Sederhana, Tolak Manfaatkan Nama Besar
Putra Kartini, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, memilih hidup mandiri tanpa mengandalkan nama besar ibunya, bahkan menolak jabatan tinggi dan hak veteran hingga akhir hayat.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 104x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Putra tunggal pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, memilih jalannya sendiri di tengah latar belakang keluarga yang disegani. Meski lahir dari ayah yang menjabat sebagai Bupati Rembang dan ibu yang menjadi simbol perjuangan hak perempuan, Soesalit tidak memanfaatkan koneksi atau ketenaran keluarga untuk meraih posisi strategis. Ia menolak tawaran untuk menggantikan ayahnya sebagai bupati, meskipun banyak pihak menginginkan hal itu terjadi.
Pilihan hidupnya justru mengarah ke militer. Pada 1943, ia memilih bergabung dengan tentara Jepang dalam pelatihan, lalu melanjutkan perjuangan sebagai anggota Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah kemerdekaan, Soesalit turut serta dalam perlawanan melawan Belanda dan menunjukkan kompetensi militer yang mumpuni. Kinerjanya dalam berbagai pertempuran membuatnya naik pangkat secara cepat, hingga pada 1946 diangkat sebagai Panglima Divisi II Diponegoro yang bertanggung jawab atas keamanan ibu kota, Yogyakarta.
Selain karier militer, Soesalit juga pernah menjabat sebagai penasihat Menteri Pertahanan dalam Kabinet Ali Sastro pada 1953. Namun, meski berada di posisi strategis, ia tetap menolak memanfaatkan identitas keluarganya untuk keuntungan pribadi. Bahkan ketika menjadi tokoh penting, ia tidak pernah menyebutkan secara eksplisit bahwa ia putra Kartini, meskipun kisah sang ibu telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia.
Jenderal Abdul Haris Nasution, yang pernah menjadi atasan Soesalit, mengungkapkan bahwa pria ini punya kesempatan besar untuk hidup layak sebagai veteran dengan menyebutkan nama ibunya. Namun, Soesalit memilih menolak. Ia memilih hidup sederhana, bahkan mengalami kesulitan ekonomi hingga akhir hayat. Prinsipnya yang konsisten menolak menjual nama besar orang tua menjadi bukti nyata dari integritas dan keberanian memilih jalan sendiri tanpa kompromi.
Ia meninggal dunia pada 17 Maret 1962, jauh dari sorotan publik, tanpa diingat sebagai anak tokoh besar. Namun, kisah hidupnya tetap menjadi teladan tentang nilai-nilai kejujuran, kemandirian, dan kesadaran diri yang tinggi dalam menghadapi warisan sejarah.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dorong transformasi madrasah menuju lingkungan belajar inklusif, aman secara digital, dan berkeadilan melalui kolaborasi semua pihak.
24 Oktober 2026
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Kontingen Sulawesi Utara keluar sebagai juara umum Kejurnas Pacuan Kuda Pordasi ke-60 Seri 2 tahun 2026, mengamankan Piala Presiden dalam perhelatan nasional.
24 Oktober 2026

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Studi menunjukkan bahwa kebahagiaan dapat dibangun melalui gaya hidup sehat, interaksi sosial, dan tujuan jangka panjang.
24 Oktober 2026

Pupuk Indonesia Dorong Ketahanan Pangan Lewat Irigasi Berkelanjutan
Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation resmikan sistem irigasi di lima daerah, termasuk Gunungkidul, untuk tingkatkan produktivitas pertanian di lahan tadah hujan.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.11 WITA

Honda Bikers Day 2026 Tancapkan Semangat Kebangkitan di Ambarawa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.10 WITA

