Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Anak Kartini Pilih Hidup Sederhana, Tolak Manfaatkan Nama Besar

Putra Kartini, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, memilih hidup mandiri tanpa mengandalkan nama besar ibunya, bahkan menolak jabatan tinggi dan hak veteran hingga akhir hayat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 104x dibuka
Anak Kartini Pilih Hidup Sederhana, Tolak Manfaatkan Nama Besar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Putra tunggal pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, memilih jalannya sendiri di tengah latar belakang keluarga yang disegani. Meski lahir dari ayah yang menjabat sebagai Bupati Rembang dan ibu yang menjadi simbol perjuangan hak perempuan, Soesalit tidak memanfaatkan koneksi atau ketenaran keluarga untuk meraih posisi strategis. Ia menolak tawaran untuk menggantikan ayahnya sebagai bupati, meskipun banyak pihak menginginkan hal itu terjadi.

Pilihan hidupnya justru mengarah ke militer. Pada 1943, ia memilih bergabung dengan tentara Jepang dalam pelatihan, lalu melanjutkan perjuangan sebagai anggota Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah kemerdekaan, Soesalit turut serta dalam perlawanan melawan Belanda dan menunjukkan kompetensi militer yang mumpuni. Kinerjanya dalam berbagai pertempuran membuatnya naik pangkat secara cepat, hingga pada 1946 diangkat sebagai Panglima Divisi II Diponegoro yang bertanggung jawab atas keamanan ibu kota, Yogyakarta.

Selain karier militer, Soesalit juga pernah menjabat sebagai penasihat Menteri Pertahanan dalam Kabinet Ali Sastro pada 1953. Namun, meski berada di posisi strategis, ia tetap menolak memanfaatkan identitas keluarganya untuk keuntungan pribadi. Bahkan ketika menjadi tokoh penting, ia tidak pernah menyebutkan secara eksplisit bahwa ia putra Kartini, meskipun kisah sang ibu telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan perempuan Indonesia.

Jenderal Abdul Haris Nasution, yang pernah menjadi atasan Soesalit, mengungkapkan bahwa pria ini punya kesempatan besar untuk hidup layak sebagai veteran dengan menyebutkan nama ibunya. Namun, Soesalit memilih menolak. Ia memilih hidup sederhana, bahkan mengalami kesulitan ekonomi hingga akhir hayat. Prinsipnya yang konsisten menolak menjual nama besar orang tua menjadi bukti nyata dari integritas dan keberanian memilih jalan sendiri tanpa kompromi.

Ia meninggal dunia pada 17 Maret 1962, jauh dari sorotan publik, tanpa diingat sebagai anak tokoh besar. Namun, kisah hidupnya tetap menjadi teladan tentang nilai-nilai kejujuran, kemandirian, dan kesadaran diri yang tinggi dalam menghadapi warisan sejarah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya