Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asap Karhutla Meluas, Timor Leste Tutup Sekolah Sementara

Kualitas udara di Timor Leste memburuk akibat asap karhutla dari Indonesia, memicu penutupan sekolah nasional selama tiga hari sebagai langkah proteksi kesehatan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 12.04 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 136x dibuka
Asap Karhutla Meluas, Timor Leste Tutup Sekolah Sementara📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi kualitas udara di Timor Leste memburuk secara signifikan akibat dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indonesia. Sebagai respons, pemerintah negara tersebut mengambil kebijakan penutupan sementara seluruh sekolah sejak Kamis (15/10), berlaku hingga Sabtu (17/10). Keputusan ini diambil untuk menjamin keselamatan siswa, guru, dan seluruh komunitas pendidikan yang rentan terhadap gangguan pernapasan akibat polusi udara tinggi.

Kementerian Pendidikan dan Kementerian Administrasi Negara Timor Leste menegaskan bahwa penutupan ini merupakan langkah preventif yang diperlukan mengingat tingginya tingkat polusi udara akibat asap lintas batas. Pernyataan resmi yang dikeluarkan pada Rabu (14/10) menyoroti kekhawatiran kesehatan publik, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Dampak asap tidak hanya terasa di wilayah perbatasan, tetapi juga menyebar ke negara-negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Di tingkat nasional, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan menerima bantuan dari negara lain untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tawaran bantuan tersebut, yang kini sedang dalam proses koordinasi teknis melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Upaya ini dilakukan dalam kerangka kerja sama ASEAN, khususnya melalui mekanisme ASEAN Coordination Center for Transboundary Haze Pollution Control (ACC THP), yang telah menetapkan status siaga 3 sejak Agustus lalu.

Di kancah internasional, perhatian juga tertuju pada sikap Sekretaris Pers Gedung Putih Amerika Serikat, Katie Zacharia, yang baru menjabat. Dalam konferensi pers pertamanya, ia menuai kritik karena penggunaan frasa yang menimbulkan kesalahpahaman, termasuk menyebut Presiden Donald Trump dengan istilah yang merujuk pada suaminya. Selain itu, durasi jumpa pers yang hanya berlangsung 14 menit dan pembatasan waktu tanya jawab hanya lima menit bagi jurnalis turut menjadi sorotan. Kekakuan saat berbicara dan ketergantungan pada teks juga memperkuat kritik terhadap gaya komunikasinya yang dianggap kurang fleksibel.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya