Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Belasan Santri Berani Buka Suara soal Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes NTB

Belasan mantan santri pesantren di NTB mengungkap pengalaman kekerasan seksual yang diduga dilakukan pendiri pondok, dengan sejumlah korban mengaku memendam trauma hingga hampir bunuh diri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 12.13 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Belasan Santri Berani Buka Suara soal Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes NTB📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Belasan mantan santri pesantren Abul Barokat Wannafahat, Nusa Tenggara Barat, kini secara terbuka menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang menimpa mereka selama menimba ilmu di lingkungan pesantren tersebut. Dari jumlah tersebut, 14 di antaranya merupakan korban baru yang muncul setelah hasil investigasi media internasional ditayangkan, menambah daftar panjang kasus yang menimpa santri di lembaga tersebut. Sejumlah korban mengungkapkan bahwa kejadian itu berulang kali terjadi dalam rentang waktu 2019 hingga 2021, terutama di malam hari, dalam kondisi sepi dan gelap.

Salah satu korban, Ziadatur Rahmah, menceritakan pengalaman percobaan pemerkosaan yang diduga dilakukan oleh Ahmad Imanuddin Sumar, sang pendiri pesantren yang akrab dipanggil Abah. Ia menyebut peristiwa terjadi di ruangan gelap yang memiliki kasur, saat dirinya dipanggil ke dalam. Meski sempat berusaha melawan, ia berhasil menyelamatkan diri, namun trauma yang dialaminya terus menghantui selama empat tahun. Ia awalnya yakin hanya dirinya yang menjadi korban, hingga menyaksikan teman seangkatan dan adik kelas juga berani bersuara.

Kepolisian Lombok Tengah telah memeriksa sebanyak 12 korban sebagai saksi, sementara sang pendiri pesantren telah diperiksa sebagai saksi pada Senin (28/09) lalu. Setelah pemeriksaan, Abah kembali membantah semua tuduhan yang dilontarkan, bahkan menuding pengakuan korban sebagai fitnah. Namun, upaya pembantahan itu justru memperkuat keyakinan sejumlah korban bahwa kejahatan telah lama ditutup-tutupi oleh struktur internal pesantren yang kuat dan sistem bungkam yang melekat.

Beberapa korban mengungkapkan adanya upaya intimidasi dari pihak dalam, termasuk seorang ustazah yang diduga menerima uang dari Abah untuk membungkam para santri. Selain itu, ada yang masih enggan bersuara karena takut orang tua mengetahui atau takut terkena stigma. Meski begitu, sejumlah mantan santri menyatakan bahwa keberanian Zia dan Sukma dalam membuka suara menjadi pemicu bagi mereka untuk akhirnya melapor. Banyak dari mereka yang mengaku telah menyimpan rasa sakit dalam selama bertahun-tahun hingga merasa hampir putus asa.

Dengan munculnya sejumlah korban baru, lembaga perlindungan anak dan komisi perempuan menekankan perlunya sistem pencegahan eksternal yang independen di lingkungan pesantren. Mereka menilai kasus ini bukan hanya soal individu, tetapi mencerminkan sistem budaya bungkam yang memperparah pelanggaran. Kekerasan seksual di pesantren, menurut mereka, sering kali terjadi dalam skala besar dan tidak dilaporkan karena tekanan sosial dan ketakutan terhadap konsekuensi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya