Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Daya Beli Masyarakat Tak Melemah, Data Justru Tunjukkan Konsumsi Tetap Kuat

Ekonom dan pejabat pemerintah menegaskan bahwa daya beli masyarakat Indonesia tidak mengalami penurunan, didukung data aktivitas ekonomi, transaksi digital, dan sektor pariwisata yang terus tumbuh.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 67x dibuka
Daya Beli Masyarakat Tak Melemah, Data Justru Tunjukkan Konsumsi Tetap Kuat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David E. Sumual, menyampaikan bahwa tren konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan fenomena yang disebut lipstick effect, yakni kecenderungan membeli produk mewah dalam ukuran kecil dan harga terjangkau meski ekonomi sedang melambat. Fenomena ini menguatkan sektor seperti kecantikan, perawatan diri, teknologi, kreatif digital, serta barang nonesensial seperti furnitur dan dekorasi rumah, yang tetap menunjukkan prospek positif di tengah sinyal melemahnya daya beli.

Berdasarkan data dari 34 juta nasabah BCA, pertumbuhan belanja masyarakat pada September 2026 tercatat hanya 1,4% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 1,8% pada Agustus. Indikator ini menunjukkan perlambatan tren konsumsi, yang juga tercermin dari penurunan tren pendapatan masyarakat menurut BCA Income Index. Namun, David menekankan bahwa sektor-sektor nontradisional seperti layanan kesehatan mental, pendidikan nonformal, logistik khusus, dan renovasi rumah tetap menjadi pilar pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Di sisi lain, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Wibowo, membantah klaim bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Ia menegaskan bahwa data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan aktivitas ekonomi yang masih kuat, terutama dalam sektor transportasi, pariwisata, dan restoran. Menurutnya, aktivitas masyarakat yang meningkat dalam berwisata dan berkonsumsi di tempat umum menjadi bukti nyata bahwa daya beli tetap solid.

Ia juga menyoroti lonjakan transaksi melalui QRIS yang terus berada di atas 100%, menandakan tingginya aktivitas ekonomi digital. Menurut Dradjad, jika daya beli benar-benar melemah, maka transaksi digital dan konsumsi di sektor jasa tidak akan mampu tumbuh signifikan. Dengan demikian, ia menilai klaim pelemahan daya beli adalah anggapan yang tidak akurat dan tidak didukung oleh data empiris yang ada.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya