Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan naik 1,12% ke level 5.387,90 didorong kenaikan saham unggulan dan ekspansi bisnis emiten, meski investor asing catatkan penjualan bersih besar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Kamis (22/10), menutup sesi di level 5.387,90 dengan kenaikan 1,12%. Penguatan ini didorong dominasi saham-saham kapitalis besar, terutama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang melonjak 3,20%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 4,05%, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang melonjak 5,61%. Sebaliknya, beberapa emiten besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) mengalami koreksi.

Di tengah penguatan pasar, arus modal asing mencatatkan net sell sebesar Rp1,47 triliun di pasar reguler dan Rp1,49 triliun secara keseluruhan, menunjukkan ketidakseimbangan antara sentimen pasar dan aktivitas investor asing. Secara sektoral, 10 dari 11 sektor mampu menutup perdagangan di zona positif, dengan sektor Energy menjadi penguasa terbesar dengan kenaikan 1,88%. Sementara sektor Technology menjadi satu-satunya yang melemah, terkoreksi 0,66%. Pergerakan bursa global beragam, dengan Dow Jones stagnan, S&P 500 turun 1,21%, dan Nasdaq terkoreksi 2,60%.

Pasar domestik juga memperhatikan regulasi HSC yang akan mulai berlaku pada 2 November 2026, yang akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan indeks. Kebijakan ini bertujuan memperbaiki representasi IHSG terhadap kondisi pasar nyata, sekaligus meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor. Indikator pasar lain seperti ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia juga menunjukkan penguatan, masing-masing naik 0,95% dan 1,02%.

PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) memperoleh fasilitas kredit investasi Rp500 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk memperluas armada kendaraan yang disewakan. Langkah ini melanjutkan ekspansi yang didukung pendanaan dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) senilai Rp100 miliar. Pada semester I 2026, pendapatan bisnis rental ASSA naik 6,50% menjadi Rp1,04 triliun, sedangkan pendapatan logistik meningkat 13,10% menjadi Rp1,35 triliun. Total pendapatan perseroan tumbuh 8,05% menjadi Rp3,06 triliun, meski laba bersih turun 2,11% menjadi Rp200,92 miliar akibat peningkatan beban bunga dan penyusutan.

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mendapatkan investasi strategis dari HPS Investment Partners senilai maksimal SGD555 juta (sekitar Rp7,79 triliun) untuk anak usaha SBTH Asia Holdings, yang mengelola bisnis limbah. Dana disalurkan melalui penerbitan saham preferen baru dan akan digunakan untuk ekspansi di kawasan Asia. Meski ada investor baru, TOBA tetap mempertahankan kendali atas SBTH sehingga bisnis tetap dikonsolidasikan penuh. Ketiga anak usaha SBTH mengelola sekitar 760.000 ton limbah hingga semester I 2026. Transaksi ini masih menunggu persetujuan RUPSLB.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham, dengan dana maksimal Rp1 triliun dari kas internal. Buyback ini berlangsung dari 22 Oktober hingga 22 Januari 2027 melalui PT BCA Sekuritas, sesuai POJK 13/2023 dan Surat OJK No. S-112/D.04/2026. Dengan harga saham saat ini, potensi pembelian maksimal mencapai 0,37% dari modal ditempatkan dan disetor. Proforma, aset AMMN turun dari USD 13,87 miliar menjadi USD 13,82 miliar, sementara ekuitas berkurang dari USD 5,43 miliar menjadi USD 5,38 miliar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya