Rabu, 16 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

DBS Evaluasi Risiko Pembiayaan Otomotif Berbasis Komponen Teknologi

Bank DBS Indonesia mengedepankan pemetaan komponen kendaraan untuk menilai risiko pembiayaan terhadap perusahaan otomotif yang masih bergantung pada mesin pembakaran dalam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 15.33 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
DBS Evaluasi Risiko Pembiayaan Otomotif Berbasis Komponen Teknologi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - DBS Indonesia menerapkan pendekatan terstruktur dalam menilai risiko pembiayaan bagi perusahaan otomotif yang tetap mempertahankan investasi di teknologi mesin pembakaran dalam (ICE), seiring transisi industri menuju kendaraan listrik (EV). Pendekatan ini dilakukan melalui pemetaan komponen kendaraan berdasarkan fungsinya, baik yang hanya digunakan pada ICE, hanya pada EV, maupun yang bersifat universal dan dapat diterapkan pada kedua platform drivetrain.

Fokus utama bank adalah pada komponen yang tetap relevan dalam kedua jenis kendaraan, seperti sistem pengereman, AC, audio, ban, dan komponen kelistrikan. Menurut perwakilan DBS, elemen-elemen tersebut akan terus dibutuhkan, baik dalam mobil berbahan bakar konvensional maupun listrik, sehingga tidak otomatis menjadi risiko tinggi dalam pembiayaan.

Meski demikian, DBS tetap menerapkan kehati-hatian lebih ketat terhadap perusahaan yang hanya fokus pada segmen ICE. Namun, hal ini tidak berarti menutup peluang pembiayaan secara keseluruhan. Pasar ICE dinilai masih memiliki pangsa besar dan akan bertahan dalam jangka panjang, terutama karena pola konsumsi massal belum sepenuhnya beralih ke EV. Kedua teknologi, menurut pihak bank, akan terus berjalan beriringan dalam waktu yang cukup lama.

Untuk mendukung adaptasi industri, DBS tidak hanya menilai risiko secara pasif, tetapi juga aktif mendorong perusahaan ICE untuk melakukan transformasi. Melalui pemetaan komponen dan strategi resetter type yang telah dikembangkan, bank berperan sebagai mitra dalam menentukan arah pembiayaan yang berkelanjutan dan sesuai dengan tren pasar. Tujuannya adalah memastikan kesehatan keuangan perusahaan sekaligus mendukung transisi energi yang berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya