DBS Evaluasi Risiko Pembiayaan Otomotif Berbasis Komponen Teknologi
Bank DBS Indonesia mengedepankan pemetaan komponen kendaraan untuk menilai risiko pembiayaan terhadap perusahaan otomotif yang masih bergantung pada mesin pembakaran dalam.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 15.33 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - DBS Indonesia menerapkan pendekatan terstruktur dalam menilai risiko pembiayaan bagi perusahaan otomotif yang tetap mempertahankan investasi di teknologi mesin pembakaran dalam (ICE), seiring transisi industri menuju kendaraan listrik (EV). Pendekatan ini dilakukan melalui pemetaan komponen kendaraan berdasarkan fungsinya, baik yang hanya digunakan pada ICE, hanya pada EV, maupun yang bersifat universal dan dapat diterapkan pada kedua platform drivetrain.
Fokus utama bank adalah pada komponen yang tetap relevan dalam kedua jenis kendaraan, seperti sistem pengereman, AC, audio, ban, dan komponen kelistrikan. Menurut perwakilan DBS, elemen-elemen tersebut akan terus dibutuhkan, baik dalam mobil berbahan bakar konvensional maupun listrik, sehingga tidak otomatis menjadi risiko tinggi dalam pembiayaan.
Meski demikian, DBS tetap menerapkan kehati-hatian lebih ketat terhadap perusahaan yang hanya fokus pada segmen ICE. Namun, hal ini tidak berarti menutup peluang pembiayaan secara keseluruhan. Pasar ICE dinilai masih memiliki pangsa besar dan akan bertahan dalam jangka panjang, terutama karena pola konsumsi massal belum sepenuhnya beralih ke EV. Kedua teknologi, menurut pihak bank, akan terus berjalan beriringan dalam waktu yang cukup lama.
Untuk mendukung adaptasi industri, DBS tidak hanya menilai risiko secara pasif, tetapi juga aktif mendorong perusahaan ICE untuk melakukan transformasi. Melalui pemetaan komponen dan strategi resetter type yang telah dikembangkan, bank berperan sebagai mitra dalam menentukan arah pembiayaan yang berkelanjutan dan sesuai dengan tren pasar. Tujuannya adalah memastikan kesehatan keuangan perusahaan sekaligus mendukung transisi energi yang berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pelumas Tetap Relevan Meski EV Naik di Indonesia
Shell Indonesia menegaskan bisnis pelumas tetap menjanjikan seiring dominasi kendaraan konvensional dan hybrid, meski adopsi mobil listrik terus meningkat.
16 September 2026

Pabrik Baterai EV CATIB Resmi Beroperasi di Karawang
Pabrik baterai kendaraan listrik milik PT CATIB di Karawang telah beroperasi sejak Juli 2026 dengan kapasitas awal 6,9 GWh dan rencana ekspansi hingga 15 GWh.
16 September 2026

Land Cruiser FJ Siap Meluncur Akhir 2026, Minat Konsumen Sudah Melebihi 300 Orang
Toyota memastikan peluncuran resmi Land Cruiser FJ di Indonesia pada akhir 2026, dengan lebih dari 300 calon pembeli telah mendaftarkan ketertarikan melalui jaringan dealer.
16 September 2026

Tiga Pilar Transformasi Otomotif Indonesia Menurut DBS
DBS mengidentifikasi elektrifikasi, lokalisasi rantai pasok, dan pemanfaatan teknologi sebagai tiga tren utama yang membentuk masa depan industri otomotif nasional.
16 September 2026
Berita Lainnya

ANW Ajukan Perlindungan ke Komnas Perempuan dan LPSK
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA

Andika Pertimbangkan Vakum, Jaga Kesehatan dan Keluarga
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA

Jaksa Hentikan Tuntutan Hukuman Mati untuk Reiner
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA
Mahasiswa Fisip UHO Dapat Pelatihan Jurnalistik di Graha Pena
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA
Gubernur Minta Kejelasan Status Lahan Eks HGU PT Kapas
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA
DPD RI Periksa Konsistensi Data dalam Pelaksanaan UU Kesejahteraan Sosial
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA
Kepemilikan IKD di Kendari Masih Rendah, Pendidikan dan Akses Teknologi Jadi Penghambat
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA

Parinringi Masuk Tiga Terbaik Pencalonan Sekda Sultra
Rabu, 16 September 2026, 19.21 WITA


