Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Generasi Muda dan Kebijakan Cuti Sakit: Tantangan dalam Budaya Kerja

Pekerja muda di Inggris cenderung lebih jarang mengambil cuti sakit, dipengaruhi oleh kondisi kerja, persepsi terhadap kesehatan, dan budaya organisasi yang menekankan kehadiran daripada kesejahteraan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 12.14 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Generasi Muda dan Kebijakan Cuti Sakit: Tantangan dalam Budaya Kerja📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pengamatan terhadap praktik cuti sakit di kalangan pekerja muda di Inggris menunjukkan angka yang lebih rendah dibandingkan generasi lebih tua. Berdasarkan data terbaru, pekerja berusia 16 hingga 24 tahun rata-rata hanya mengambil cuti sakit selama 2,4 hari dalam setahun, jauh di bawah rata-rata pekerja berusia 50 hingga 64 tahun yang mencapai 6,2 hari. Fenomena ini tidak mencerminkan kurangnya kesadaran terhadap kesehatan, melainkan hasil dari struktur pekerjaan yang tidak stabil dan dinamika budaya kerja yang menekankan kehadiran.

Kondisi kerja seperti kontrak zero-hours, yang tidak menjamin jam kerja minimum, menjadi salah satu faktor utama. Pekerja muda lebih sering berada dalam posisi yang rentan secara ekonomi, sehingga cenderung menghindari cuti untuk menjaga kestabilan pekerjaan. Selain itu, mereka juga lebih kecil kemungkinannya mengalami penyakit kronis seperti gangguan sendi, yang sering menjadi alasan utama pengajuan cuti. Namun, hal ini tidak berarti mereka tidak peduli terhadap kesejahteraan, justru sebaliknya—mereka lebih cenderung melihat kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesehatan secara menyeluruh.

Psikolog kesejahteraan kerja menegaskan bahwa persepsi terhadap cuti sakit sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja. Di tempat-tempat yang menekankan produktivitas tanpa memperhatikan kesejahteraan, pekerja merasa bersalah atau takut dianggap lemah jika mengambil cuti. Khususnya bagi pekerja muda yang masih dalam tahap awal karier, ketakutan akan reputasi negatif menjadi penghambat utama. Ketika manajer memuji karyawan yang tetap bekerja meski sakit, pesan implisit tersebut diterima secara luas: dedikasi diukur dari kemampuan bertahan, bukan dari kesehatan.

Dalam konteks ini, budaya kerja yang tidak sehat justru menghargai presenteeism—tetap bekerja meski kondisi fisik atau mental tidak memungkinkan. Ini menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa tidak aman untuk mengungkapkan kebutuhan istirahat. Ahli psikologi menekankan bahwa di lingkungan yang sehat, karyawan harus mampu berbicara terbuka tentang kesejahteraan tanpa takut dihakimi. Kecurigaan atau penilaian negatif terhadap ketidakhadiran menjadi tanda bahaya yang serius bagi kesejahteraan jangka panjang.

Panduan medis menawarkan batas jelas untuk cuti sakit fisik: tetap di rumah selama 48 jam setelah gejala diare atau muntah mereda, dan 24 jam setelah demam turun. Namun, untuk kondisi seperti batuk atau pilek—yang sering dianggap ringan—keputusan menjadi lebih kompleks. Di tengah perubahan etika kerja pasca-pandemi, penting bagi setiap individu dan organisasi untuk menilai secara objektif apakah kondisi kesehatan memungkinkan kerja efektif atau justru memperburuk situasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya