Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Generasi Muda Diminta Bijak Hadapi Risiko Finansial Digital

LPS menekankan pentingnya literasi keuangan sejak dini untuk melindungi generasi muda dari bahaya pinjaman ilegal, judi daring, dan pengelolaan keuangan impulsif di era digital.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 98x dibuka
Generasi Muda Diminta Bijak Hadapi Risiko Finansial Digital📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggarisbawahi perlunya kesadaran tinggi di kalangan generasi muda terhadap ancaman finansial yang muncul dari kemudahan akses ke layanan keuangan digital. Dengan melimpahnya penggunaan smartphone, akses ke produk keuangan digital kini sangat terbuka, namun tidak diimbangi pemahaman yang memadai terhadap risiko yang melekat, seperti kebiasaan belanja spontan, terjerat pinjaman online tanpa izin, hingga terlibat dalam aktivitas judi daring. Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, menyampaikan peringatan ini dalam kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya, menekankan bahwa kesiapan mental dan edukasi finansial harus menyertai kemudahan teknologi.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan bahwa meskipun inklusi keuangan mencapai 93,6 persen, tingkat literasi keuangan nasional masih berada di angka 69,5 persen. Angka ini mengungkapkan adanya kesenjangan antara akses dan pemahaman, yang berpotensi memicu perilaku keuangan yang tidak sehat. Farid menyoroti tren yang mengkhawatirkan, terutama di kalangan Generasi Z, yang rentan terpapar taruhan olahraga digital. Data dari Bloomberg mencatat bahwa 52 persen responden pernah mengalihkan dana investasi mereka ke aktivitas taruhan, sementara 26 persen memandangnya sebagai strategi keuangan jangka panjang—sebuah persepsi yang jauh dari prinsip keuangan sehat.

Untuk mencegah kerentanan tersebut, LPS mendorong penerapan prinsip “Sisihkan, Bukan Sisakan” sebagai dasar pengelolaan keuangan pribadi. Prinsip ini menganjurkan agar sebagian pendapatan atau uang saku segera dialokasikan untuk tabungan sejak awal, bukan setelah semua pengeluaran dipenuhi. Dengan begitu, generasi muda dapat membangun dana darurat dan memenuhi kebutuhan masa depan secara terencana. Selain aspek materi, Farid juga menekankan pentingnya memperkuat bekal non-finansial seperti pengetahuan, karakter, dan jaringan sosial positif sebagai investasi jangka panjang yang mendukung kemandirian ekonomi.

Kerja sama strategis antara LPS dan Universitas Negeri Surabaya melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) menjadi wadah konkret untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap fungsi, tugas, dan kewenangan lembaga penjamin simpanan. Melalui program penelitian, pengembangan kompetensi, serta sosialisasi, kerja sama ini bertujuan menciptakan generasi yang tidak hanya akrab dengan teknologi digital, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara bijak dan tangguh menghadapi ancaman finansial modern.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya