Sabtu, 12 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Hamas: Pelucutan Senjata Setelah Israel Mundur dari Gaza

Hamas menegaskan tidak akan melepaskan senjata sebelum pasukan Israel menarik diri dari Jalur Gaza, menekankan keterkaitan antara penarikan militer dan proses demiliterisasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.58 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Hamas: Pelucutan Senjata Setelah Israel Mundur dari Gaza📷 Tempo

Kendari, ıNarasikita - Pejabat senior Hamas, Ghazi Hamad, secara tegas menyatakan bahwa pelucutan senjata oleh kelompoknya hanya dapat dilakukan setelah Israel menepati komitmennya untuk menarik pasukannya dari wilayah Gaza. Ia menekankan bahwa proses rekonsiliasi dan pemulihan infrastruktur di wilayah tersebut tidak bisa dipisahkan dari kewajiban Israel untuk menghentikan kehadiran militernya. Menurut Hamad, mekanisme pelucutan senjata akan dikelola oleh komite teknokrat yang dibentuk secara khusus oleh Palestina, bukan oleh pihak asing atau Israel.

Dalam pernyataannya, Hamad menyebut bahwa negosiasi dengan Israel merupakan proses yang kompleks dan penuh tantangan, namun Hamas tetap berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina secara utuh. Ia menyoroti pentingnya peran negara-negara mediator seperti Mesir, Qatar, dan Turki dalam membuka ruang dialog yang kondusif. Pernyataan ini disampaikan menyusul klaim dari pihak Amerika Serikat bahwa kesepakatan damai telah tercapai, termasuk pelucutan senjata penuh dan penarikan pasukan Israel secara bertahap.

Namun, Hamad menegaskan bahwa klaim tersebut tidak mencerminkan realitas di lapangan. Ia menekankan bahwa Hamas tidak akan mengambil inisiatif melepaskan senjata tanpa kepastian bahwa Israel benar-benar menarik pasukannya. Upaya mediasi yang dilakukan oleh tiga negara regional dinilai penting, tetapi tetap harus didukung oleh kebijakan nyata dari Israel.

Sementara itu, rencana damai yang diusung oleh Amerika Serikat mencakup 20 poin utama, termasuk pembentukan Dewan Perdamaian (BoP) untuk mengawasi implementasi kesepakatan. Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) bersama kepolisian Palestina akan bertanggung jawab atas keamanan pasca-gencatan senjata. Meski gencatan senjata resmi berlaku sejak 10 Oktober 2025, serangan Israel terus berlanjut hingga 30 Juli 2026, menewaskan 1.214 warga Palestina dan melukai 3.977 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh operasi militer Israel mencapai 90 persen dari total infrastruktur di Gaza. Data menunjukkan bahwa sejak awal konflik, lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 174.000 lainnya terluka. Kesepakatan damai yang diusung Trump dinilai belum mencerminkan keberhasilan nyata, karena pelanggaran berkelanjutan terhadap gencatan senjata terus terjadi tanpa konsekuensi yang signifikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Tonton Videonya

Berita Terkait

Berita Lainnya