Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Thailand Siapkan Tarif Tiga Level untuk Kendaraan Listrik

Thailand mempersiapkan kebijakan tarif cukai tiga tingkat untuk kendaraan listrik, membedakan impor utuh dan produk lokal, demi menjaga daya saing di tengah persaingan investasi dari Indonesia dan Vietnam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 22.45 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Thailand Siapkan Tarif Tiga Level untuk Kendaraan Listrik📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Thailand telah menyetujui secara prinsip pengaturan tarif cukai kendaraan listrik (EV) dengan struktur tiga tingkat, yang memberikan keunggulan bagi produk yang diproduksi secara lokal. Kebijakan ini disahkan oleh dewan kebijakan EV nasional, dengan rencana menaikkan tarif bagi mobil listrik impor utuh yang saat ini dikenakan cukai dasar 10 persen. Sebaliknya, kendaraan listrik yang dirakit dalam negeri akan mendapatkan tarif terendah, meskipun detail besaran tarif dan masa transisi belum ditentukan secara final.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ketatnya persaingan di sektor manufaktur EV di Asia Tenggara, terutama dari Indonesia dan Vietnam yang menawarkan insentif kuat bagi perusahaan asal Tiongkok. Dengan strategi ini, Thailand berupaya mencegah ketergantungan berlebihan pada produk impor dan mendorong pembentukan ekosistem produksi lokal. Namun, kebijakan protektif ini dinilai belum tentu efektif mengubah arus pasar, mengingat sejumlah produsen Tiongkok telah membangun pabrik perakitan di Thailand sejak awal 2024.

Delapan merek asal Tiongkok—BYD, Great Wall, Changan, SAIC, Chery, Hozon, GAC, dan Wuling—telah resmi mengumumkan pembangunan pabrik di Thailand, dengan sebagian besar sudah beroperasi pada kuartal kedua 2026. Skala investasi ini menjadikan negara ini sebagai pusat produksi EV Tiongkok terbesar ketiga di dunia secara nilai, dan terbanyak dalam jumlah pabrik. Kehadiran pabrik lokal membuat produsen tersebut berpotensi memenuhi syarat tarif rendah segera setelah aturan berlaku, sehingga dampak proteksi kebijakan ini diperkirakan terbatas.

Kebijakan insentif EV 3.0 yang diluncurkan pada 2022 sebelumnya memungkinkan produsen mendapatkan subsidi dan pemotongan pajak dengan syarat kandungan lokal, namun kewajiban tersebut ditunda hingga 2024. Periode ini memberi kesempatan dua tahun bagi merek Tiongkok untuk memasuki pasar secara bebas tarif dan bersubsidi. Akibatnya, merek China berhasil menguasai 89 persen pasar EV Thailand pada akhir 2025. Harga EV Tiongkok terus menurun secara signifikan, dengan penurunan harga mencapai 50 persen dibandingkan produk non-Tiongkok pada Mei 2026, menurut data Rhodium Group.

Penjualan EV China sempat melonjak pada Desember 2025 menjelang berakhirnya insentif pada Januari 2026, lalu turun tajam sebelum kembali pulih ke level sebelumnya dalam hitungan bulan. Meskipun terjadi fluktuasi, pangsa pasar merek Tiongkok tidak mengalami pergeseran signifikan, menunjukkan kekuatan penetrasi pasar yang sudah mapan. Kebijakan tarif baru diharapkan dapat membantu menyeimbangkan daya saing, namun tantangan utamanya tetap terletak pada konsistensi regulasi dan kemampuan industri lokal untuk bersaing secara global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya