Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS

Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026), turun 0,23% terhadap dolar AS hingga mencapai posisi Rp17.570 per dolar. Pergerakan ini melanjutkan tren pelemahan dari sesi sebelumnya, ketika mata uang domestik menutup perdagangan Kamis dengan melemah 0,17% ke level Rp17.530/US$. Penurunan rupiah terjadi di tengah tekanan eksternal yang memperkuat greenback di pasar global.

Indeks dolar AS (DXY) stabil di angka 99,038 pada pukul 09.00 WIB, setelah sebelumnya menguat 0,23% pada penutupan perdagangan Kamis. Penguatan dolar didorong oleh data indeks harga produsen (PPI) AS yang naik 0,4% pada Agustus, sesuai ekspektasi pasar. Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tekanan inflasi di tingkat produsen, menambah kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga global.

Harga minyak dunia juga turut berkontribusi terhadap kekuatan dolar, dengan minyak Brent melanjutkan kenaikan enam hari berturut-turut hingga menyentuh US$108,96 per barel. Kenaikan harga energi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 15–16 September meningkat menjadi 71,3%, naik dari 61,2% sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan, dengan yield obligasi tenor 10 tahun mencapai 4,965%, mendekati level 5%. Peningkatan imbal hasil tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga berdampak pada penurunan nilai mata uang negara berkembang seperti rupiah. Pergerakan rupiah menjelang akhir pekan tetap sensitif terhadap perkembangan ekonomi global, khususnya rilis data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat.

Pasar kini menanti rilis inflasi AS sebagai indikator utama terakhir sebelum pertemuan kebijakan The Fed. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga akan semakin kuat, menopang dolar AS dan menambah tekanan pada rupiah. Sebaliknya, data yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan tekanan moneter global dan memberi ruang bagi rupiah untuk pulih.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya