IHSG Terpuruk Hingga 1,82% di Awal Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan anjlok hampir 2% pada pembukaan perdagangan Jumat, dipicu tekanan global dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan volatilitas harga minyak akibat eskalasi konflik Iran-AS.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada awal perdagangan Jumat (11/9/2026), menyentuh level terendah di 6.466,60 atau turun lebih dari 1,82% dari pembukaan. Penurunan tersebut terjadi hanya dalam waktu lima belas menit setelah sesi dimulai, menandai aksi jual besar-besaran di pasar modal. Hanya 75 saham yang mencatat kenaikan, sementara 527 saham melemah dan 106 saham stagnan, menunjukkan dominasi tekanan jual di seluruh sektor. Volume perdagangan awal mencapai 7,24 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp3,29 triliun, mengindikasikan aktivitas pasar yang tinggi namun negatif.
Sejumlah emiten besar menjadi pemicu penurunan indeks, dengan Bank Central Asia (BBCA) menyumbang tekanan terbesar sebesar 11,73 poin, disusul Bayan Resources (BYAN) dengan 12,37 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin, Amman Mineral (AMMN) 5,83 poin, Bank Mandiri (BMRI) 4,34 poin, dan Bumi Resources (BUMI) 3,96 poin. Sektor energi menjadi yang paling terdampak, diikuti oleh barang baku, konsumer non primer, dan finansial, yang semuanya mengalami koreksi menyeluruh. Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian yang meluas di pasar modal domestik akibat sentimen global yang memburuk.
Dua faktor utama yang mendorong penurunan adalah lonjakan imbal hasil obligasi AS dan kenaikan harga minyak mentah. Yield obligasi AS tenor 10 tahun melonjak ke 4,84%, level tertinggi sejak Oktober 2023, sementara yield tenor 20 tahun mencapai 5,314% dan tenor 30 tahun menembus 5,3%. Kenaikan ini menekan valuasi aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang. Di sisi lain, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak melewati US$100 per barel, didorong oleh eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama tujuh bulan. Iran melaporkan telah menyerang sepuluh kapal di Selat Hormuz, memicu ketegangan geopolitik yang berdampak langsung pada pasar energi global.
Kondisi fiskal AS yang memburuk turut menjadi pemicu pasar. Utang pemerintah federal AS telah menembus US$40 triliun, mencatat rekor baru. Untuk menjaga likuiditas pasar obligasi, Departemen Keuangan AS menggelar operasi buyback hingga US$6 miliar—tiga kali lipat dari operasi normal—dengan fokus pada obligasi tenor 10 dan 20 tahun. Namun, respons pasar justru negatif, menunjukkan kekhawatiran atas keberlanjutan kebijakan fiskal. Investor Stanley Druckenmiller memperingatkan bahwa upaya mempertahankan harga obligasi akan membutuhkan intervensi semakin besar seiring waktu, yang dapat memperburuk tekanan ke depan.
Pergeseran pasar global juga menyebar ke wilayah Asia-Pasifik, dengan bursa Korea Selatan dan Jepang menjadi pemimpin penurunan. Kospi turun 2,7%, sementara Nikkei 225 melemah 2,6%. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga terkoreksi 1%. Penurunan ini terjadi setelah saham AS mengalami tekanan akibat lonjakan harga minyak pada perdagangan sebelumnya. Kombinasi antara ketegangan geopolitik, kenaikan imbal hasil, dan risiko inflasi global telah menciptakan lingkungan pasar yang tidak kondusif bagi aset berisiko, termasuk saham Indonesia.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


