Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Awali Pekan dengan Kenaikan Ringan

Indeks Harga Saham Gabungan bergerak menguat pada awal perdagangan Jumat, ditopang sentimen global dan aktivitas pasar yang stabil.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 12.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Awali Pekan dengan Kenaikan Ringan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari ini di level 6.039,01, lalu menguat ke posisi 6.042,85 pada awal sesi, naik 11,57 poin atau 0,19%. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan beli yang konsisten sejak pembukaan, dengan rentang harian berada di kisaran 6.035,38 hingga 6.043,95. Meskipun volatilitas tetap rendah, indeks berhasil bertahan di dekat level tertinggi harian, menunjukkan sentimen positif di tengah ketidakpastian global. Volume perdagangan mencapai 26,97 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp189,22 miliar.

Pasar mengamati perkembangan ekonomi domestik dan global secara bersamaan. Data terbaru menunjukkan penurunan tipis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia dari 118,5 di Agustus menjadi 118,1 pada September, mengindikasikan pemulihan daya beli yang belum merata. Di sisi lain, klaim pengangguran di Amerika Serikat turun lebih rendah dari perkiraan, menandakan ketahanan pasar tenaga kerja AS. Kini fokus beralih pada data penjualan ritel Indonesia untuk mengukur keberlanjutan pemulihan konsumsi rumah tangga.

Di kancah internasional, ketegangan geopolitik tetap menjadi pemicu volatilitas. Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda serangan terhadap Iran hingga setelah pemilihan paruh waktu 3 November 2026, meski blokade laut tetap berlaku dan larangan pengembangan senjata nuklir bagi Teheran tetap ditegaskan. Keputusan ini mendorong kenaikan harga minyak Brent lebih dari 4% dan menembus level US$104 per barel, menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) yang dirilis kemarin menegaskan bahwa inflasi masih berpotensi meningkat, dengan pertimbangan terhadap risiko geopolitik seperti konflik AS-Iran dan perang Rusia-Ukraina. ECB mempertahankan suku bunga acuan, dengan tingkat deposito tetap di 2,50% dan suku bunga operasi pembiayaan utama di 2,65%. Meski tidak mengumumkan perubahan kebijakan, pernyataan ini menunjukkan pengetatan kebijakan moneter belum dikesampingkan, tetapi juga belum dipastikan.

Dalam konteks global, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa harga energi dapat tetap tinggi meskipun konflik di Teluk berakhir. Pemulihan produksi dan distribusi membutuhkan waktu, sementara keterbatasan kapasitas penyulingan serta gangguan pengiriman gas alam melalui Selat Hormuz berdampak langsung pada pasar Eropa dan Asia. Harga minyak Brent diperkirakan tetap berada di kisaran US$100 per barel hingga 2027, mencerminkan tekanan pasokan dan biaya logistik yang tinggi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya