Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terkoreksi Lebih dari 1% di Awal Perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,08% pada awal perdagangan Selasa, dipengaruhi tekanan domestik dan global termasuk pergantian menteri keuangan dan ketegangan Timur Tengah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 11.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Terkoreksi Lebih dari 1% di Awal Perdagangan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada awal perdagangan Selasa, 15 September 2026, dengan penurunan lebih dari 1%. Pada pukul 09.09 WIB, indeks berada di level 6.463,97, merosot 70,72 poin dari posisi penutupan sebelumnya di 6.534,69. Meski sempat dibuka di 6.544,77 dan menyentuh puncak 6.549,60, tekanan jual mempercepat koreksi hingga menyentuh level terendah 6.462,85 sebelum kembali stabil di zona negatif.

Pergerakan negatif ini didorong oleh koreksi pada sebagian besar saham yang diperdagangkan. Dari total saham yang tercatat, 297 mengalami penurunan, 203 menguat, dan 463 lainnya stagnan. Aktivitas pasar mencatat volume transaksi sebesar 2,89 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1,63 triliun, disertai frekuensi perdagangan sebanyak 182.500 kali. Saham-saham kapitalisasi besar turut terdampak, termasuk Bayan Resources (BYAN) yang anjlok 6,8%, sementara emiten bank besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA melemah masing-masing 2,35%, 2,03%, dan 1,92%.

Dari sisi domestik, sentimen pasar terpantau dipengaruhi oleh pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara. Setelah dilantik pada Senin, Suahasil menegaskan komitmennya untuk menjaga kesehatan APBN dengan memastikan defisit tetap di bawah 3% terhadap PDB. Kepastian kebijakan fiskal ini menjadi kunci bagi investor, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

Di kancah internasional, eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan energi. Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi pada Senin memperburuk ketegangan, dengan jalur pipa East-West Saudi kembali terganggu. Selat Hormuz tetap tertutup, dan upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur strategis itu menghadapi tantangan. Kondisi ini mendorong harga minyak dunia naik, dengan kontrak WTI mencapai US$102,65 per barel dan Brent berada di US$106,93. Kenaikan harga energi berpotensi memperparah inflasi global dan menambah beban bagi ekonomi pengimpor minyak.

Tekanan eksternal lainnya berasal dari prospek kebijakan moneter The Federal Reserve. Bank Indonesia memperingatkan bahwa era suku bunga tinggi yang berkepanjangan dapat memperburuk tekanan pada pasar keuangan negara berkembang. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dikhawatirkan mengalihkan aliran modal ke aset negara maju. Pasar menilai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin dalam rapat FOMC 15–16 September mencapai 92,4%, yang berpotensi menekan rupiah dan menambah volatilitas pasar domestik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya