Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk ke Level 4.900, Tanda Krisis Kredibilitas Pasar Modal

Indeks saham acuan Indonesia anjlok 4,31% ke level 4.961, menyentuh titik terendah sejak pandemi, setelah MSCI pertimbangkan pemindahan status pasar Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 12.27 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 95x dibuka
IHSG Terpuruk ke Level 4.900, Tanda Krisis Kredibilitas Pasar Modal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (19/10/2026), menyentuh level 4.961,87—angka terendah sejak Oktober 2020. Penurunan harian sebesar 4,31% ini menjadi yang paling dalam dalam hampir tiga dekade terakhir, memperparah koreksi yang telah terjadi sejak awal tahun. Pada Jumat (16/10/2026), indeks sebelumnya sempat anjlok 11,6% dalam sehari, menandai lonjakan ketidakstabilan yang mengguncang pasar modal nasional. Sejak awal tahun, IHSG telah terkoreksi hingga 43% secara year to date, menjadikannya indeks utama dengan performa terburuk di dunia.

Pemicu utama koreksi ini berasal dari pengumuman MSCI yang menyatakan sedang meninjau kemungkinan menaikkan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging markets) ke kategori pasar independen (standalone). Jika kebijakan ini direalisasikan, Indonesia—ekonomi terbesar di Asia Tenggara—berisiko kehilangan akses terhadap arus modal global, sebagaimana terjadi pada negara-negara dengan kredibilitas pasar rendah seperti Lebanon dan Zimbabwe. Pemindahan ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kemajuan reformasi struktural, khususnya dalam transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan pasar.

Perjalanan IHSG selama tiga dekade terakhir mencerminkan dinamika ekonomi dan politik Indonesia yang ekstrem. Dari level 500-an pada akhir 1990-an, indeks sempat menyentuh 9.000 pada awal 2026 sebelum kembali ke kisaran 4.900-an. Krisis moneter Asia pada 1997 menyebabkan penurunan 65% dalam 14 bulan, dengan indeks menyentuh level terendah 256 pada 1998. Meski pulih signifikan di tahun 1999, kenaikan tersebut hampir seluruhnya hilang pada 2000, menandai periode pemulihan yang lambat dan tidak stabil.

Dalam rentang 2010 hingga 2025, IHSG menunjukkan pertumbuhan positif secara kumulatif sebesar 241%, rata-rata 8% per tahun tanpa memasukkan dividen. Masa 2010–2017 menjadi periode keemasan dengan pertumbuhan rata-rata 12% per tahun, didukung stabilitas politik dan kenaikan harga komoditas. Namun, periode 2018–2024 justru menunjukkan stagnasi, dengan indeks bergerak di kisaran 6.000–7.300. Pemulihan terjadi pada 2025, ketika indeks melonjak 22,13% dan mencatat rekor tertinggi 24 kali. Namun, lonjakan ini berbalik drastis di 2026, ketika tekanan arus keluar modal asing, volatilitas geopolitik, dan penurunan harga minyak menyeret IHSG turun hampir 30% hingga akhir September.

Meski terjadi kejatuhan besar, pola historis menunjukkan bahwa setiap krisis besar—seperti 1997, 2000, dan 2008—selalu diikuti pemulihan, meskipun durasinya bervariasi dari satu tahun hingga lebih dari tujuh tahun. Kini, pasar menghadapi tantangan baru: tidak hanya ekonomi, tetapi juga kredibilitas institusional yang menentukan daya tarik investasi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya