Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jembatan Kuno 400 Tahun Muncul di Danau Poyang Saat Kekeringan

Jembatan batu granit berusia hampir empat abad muncul kembali di Danau Poyang, China, saat air surut akibat musim kemarau, menunjukkan struktur arsitektur klasik era Dinasti Ming yang masih utuh.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 12.11 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 24x dibuka
Jembatan Kuno 400 Tahun Muncul di Danau Poyang Saat Kekeringan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah struktur batu granit kuno berusia hampir empat abad kembali terlihat di permukaan Danau Poyang, Provinsi Jiangxi, seiring menyusutnya volume air akibat musim kemarau. Jembatan yang dikenal sebagai Qianyan atau "Jembatan Seribu Lubang" terpapar kembali setelah bersembunyi di dasar danau selama bertahun-tahun. Panjangnya mencapai 2.657 meter, menjadikannya jembatan batu terpanjang di China yang menghubungkan dua sisi wilayah Kabupaten Duchang.

Dibangun pada masa Dinasti Ming (1368–1644), jembatan ini didukung oleh 949 tiang penyangga dan memiliki 948 hingga 1.000 lubang aliran air yang dirancang untuk mengurangi tekanan saat banjir. Fungsi utamanya dahulu sebagai jalur utama penyeberangan bagi penduduk di sekitar danau, memainkan peran penting dalam mobilitas dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Kemunculan jembatan ini bersifat periodik, terjadi setiap kali ketinggian air danau turun di bawah 10,5 meter—sekitar 34,4 kaki—sehingga struktur batu granit yang biasanya tenggelam kembali terpapar. Saat musim hujan tiba, jembatan kembali tenggelam, menyimpan kembali warisan sejarahnya di bawah permukaan air. Fenomena ini rutin menarik perhatian masyarakat dan para peneliti, menjadi daya tarik wisata sejarah yang unik.

Untuk melindungi aset budaya berharga ini dari kerusakan akibat erosi dan perubahan lingkungan, otoritas lokal telah meluncurkan program pemeliharaan dan restorasi skala besar. Upaya tersebut bertujuan memperkuat struktur fisik jembatan dan menjaga keutuhan arsitektur kuno agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya