Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jokowi Ubah Posisi Soal Dua Periode, Guntur Romli Sebut Omongannya Tak Bisa Dipercaya

Mantan presiden Jokowi kini menyatakan pemilu masih jauh, berbeda dengan sikap sebelumnya yang mendukung dua periode, menurut politikus PDIP Guntur Romli yang menilai pernyataan tersebut tidak konsisten.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 29x dibuka
Jokowi Ubah Posisi Soal Dua Periode, Guntur Romli Sebut Omongannya Tak Bisa Dipercaya📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Mantan presiden Joko Widodo kini menekankan bahwa pemilu masih berada jauh di depan, berbeda dengan pernyataan sebelumnya yang secara terbuka mendukung gagasan dua periode bagi Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Perubahan posisi ini menjadi sorotan publik dan dikomentari oleh politikus PDIP Guntur Romli, yang menyatakan bahwa pernyataan Jokowi tidak bisa dijadikan acuan karena dinilai tidak konsisten.

Guntur menilai bahwa sikap Jokowi yang berubah-ubah mencerminkan ketidakpastian dalam komunikasi politik. Ia menyebut bahwa mantan kepala negara sering kali berubah pandangan dalam waktu singkat, bahkan bisa mendukung suatu isu hari ini, lalu menarik diri atau berkelit esok harinya. Menurutnya, hal ini menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas pernyataan yang disampaikan oleh mantan presiden.

Dugaan kuat di balik perubahan sikap tersebut adalah kekecewaan Jokowi terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pendidikan Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2024. Putusan MK yang mempertimbangkan aspek legalitas ijazah menimbulkan dinamika politik yang memengaruhi narasi dukungan terhadap Gibran sebagai calon yang siap melanjutkan kekuasaan.

Dengan demikian, Guntur menyimpulkan bahwa perubahan sikap Jokowi bisa jadi bagian dari strategi jangka panjang, yakni mempersiapkan Gibran sebagai pesaing Prabowo Subianto dalam pemilu 2029. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika politik di tingkat nasional terus berevolusi, dengan narasi yang berubah-ubah namun tetap berbasis pada kepentingan kekuasaan jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya