Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mengelola Emosi Anak Sejak Usia Dini, Ini Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Orang tua perlu menjadi panutan dalam mengelola emosi agar anak belajar mengungkapkan perasaan secara sehat sejak dini.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 22.15 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Mengelola Emosi Anak Sejak Usia Dini, Ini Langkah Nyata yang Bisa Dilakukan Orang Tua📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pengelolaan emosi pada anak tidak muncul secara otomatis, melainkan merupakan keterampilan yang harus dibina secara bertahap sejak usia dini. Otak anak pada masa kanak-kanak masih dalam proses perkembangan, terutama bagian yang mengatur emosi, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Karena itu, mereka sering kali mengalami kesulitan dalam menangani perasaan seperti marah, sedih, atau frustrasi, yang bisa berujung pada tangisan, teriakan, atau amarah tak terkendali.

Peran orang tua sangat krusial dalam membimbing anak mengenali emosinya. Salah satu pendekatan efektif adalah dengan menjadi contoh langsung. Ketika orang tua merasa kesal, mereka bisa menyampaikannya dengan tenang, misalnya dengan berkata, "Ibu sedang marah, tapi ibu akan tenang dulu sebelum bicara." Dengan cara ini, anak belajar bahwa emosi adalah hal wajar, namun harus diungkapkan dengan cara yang tepat dan terkendali.

Menghindari hukuman fisik atau verbal yang keras juga penting. Pendekatan yang menakutkan justru dapat memperkuat perilaku agresif pada anak dan menghambat kemampuan mereka untuk memahami konsekuensi dari tindakan. Sebaliknya, orang tua sebaiknya menjelaskan kesalahan secara jelas, mengarahkan ke solusi, dan menawarkan ruang untuk perbaikan. Pendekatan ini membentuk lingkungan yang aman dan mendukung emosional.

Penting pula untuk mengapresiasi setiap usaha anak dalam mengekspresikan perasaan secara positif. Ketika anak mampu mengatakan "Aku marah" daripada memukul atau menangis keras, respons positif seperti pujian sederhana atau pengakuan atas usahanya akan memperkuat perilaku yang diharapkan. Selain itu, melibatkan seluruh anggota keluarga dalam pendekatan yang konsisten memastikan anak tidak bingung dan merasa didukung dalam setiap situasi emosional.

Aktivitas seperti bermain peran juga bisa menjadi alat efektif. Dengan berpura-pura menjadi karakter dalam situasi berbeda — seperti kehilangan mainan atau tidak bisa ikut bermain — anak belajar mengenali emosi dan mencoba respons yang lebih sehat. Di tengah proses ini, kehadiran orang tua yang tetap tenang menjadi penopang utama, menunjukkan bahwa emosi bisa dikelola tanpa kehilangan kendali.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya